Selasa 06 Jan 2026 19:39 WIB

Pakar Ungkap Ancaman Perubahan Iklim terhadap Sistem Fisik Pesisir

Pemerintah harus mengambil langkah strategis.

Foto udara kondisi Perumahan Tahap III Sriwulan terisolasi ketika air pasang tinggi merendam akses jalan keluar-masuk perumahan di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Rabu (4/6/2025). Organisasi nirlaba perubahan iklim Climate Central melalui proyeksi citra satelit terhadap kenaikan permukaan air laut tahunan, memprediksi wilayah pesisir utara Kabupaten Demak terancam hilang tenggelam oleh air laut pada tahun 2030 akibat terdampak abrasi, penurunan permukaan tanah disertai banjir limpahan air laut ke daratan (rob) dampak dari krisis iklim.
Foto: ANTARA FOTO/Aji Styawan
Foto udara kondisi Perumahan Tahap III Sriwulan terisolasi ketika air pasang tinggi merendam akses jalan keluar-masuk perumahan di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Rabu (4/6/2025). Organisasi nirlaba perubahan iklim Climate Central melalui proyeksi citra satelit terhadap kenaikan permukaan air laut tahunan, memprediksi wilayah pesisir utara Kabupaten Demak terancam hilang tenggelam oleh air laut pada tahun 2030 akibat terdampak abrasi, penurunan permukaan tanah disertai banjir limpahan air laut ke daratan (rob) dampak dari krisis iklim.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR — Perubahan iklim kian menekan daya dukung kawasan pesisir dan pulau di Indonesia, terutama melalui kenaikan muka air laut dan peningkatan energi gelombang. Dampak ini mulai terlihat pada abrasi pantai hingga banjir rob yang makin sering terjadi di wilayah pesisir.

Pakar Hidrologi Universitas Hasanuddin Dr Riswal Karamma mengatakan, perubahan iklim memicu perubahan sistem fisik pesisir yang berdampak langsung pada garis pantai dan permukiman.

Baca Juga

“Salah satu kondisi itu menyebabkan permukaan air laut semakin tinggi, akibatnya terjadi abrasi akibat hempasan gelombang yang semakin tinggi, terutama pada musim hujan yang juga dapat memicu banjir rob,” kata Riswal di Makassar, Selasa (6/1/2026).

Menurut Riswal, upaya mitigasi dapat ditempuh melalui pendekatan rekayasa keteknikan atau struktur engineering. Pendekatan ini mencakup pembangunan struktur keras seperti seawall, revetment, breakwater, groin, dan submerged reef untuk mereduksi energi gelombang, menahan abrasi, serta melindungi permukiman pesisir.

Selain itu, pendekatan teknik lunak atau soft engineering juga dinilai penting melalui beach nourishment, rehabilitasi gumuk pasir, serta pengembangan sabuk mangrove guna memperkuat ketahanan alami pesisir terhadap perubahan energi gelombang.

Ancaman perubahan iklim terhadap pulau-pulau kecil juga ditegaskan Pemerhati Lingkungan sekaligus Direktur Eksekutif Jurnal Celebes, Mustam Arif.

Ia mengatakan, prediksi Dewan Nasional Perubahan Iklim menyebutkan hingga 2100 Indonesia berpotensi kehilangan 115 pulau akibat kenaikan muka air laut.

“Artinya ancaman paling nyata yang kita hadapi ke depan adalah naiknya permukaan air laut di pulau-pulau atau wilayah pesisir. Sementara di Sulsel pulau terbanyak ada di Kabupaten Pangkep dengan kurang lebih 115 pulau, lebih dari separuhnya berpenghuni,” kata Mustam.

Ia menambahkan, masyarakat pulau di Pangkep menghadapi risiko kehilangan daratan, rusaknya ekosistem pesisir, hingga hilangnya sarana dan prasarana penghidupan. Kondisi ini berpotensi memperparah kerentanan sosial dan ekonomi warga pesisir.

Karena itu, Mustam mendorong pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan mengambil langkah strategis, mulai dari pembangunan tanggul pemecah ombak hingga penguatan rehabilitasi mangrove di sepanjang pesisir dan pulau-pulau kecil.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement