Ahad 01 Mar 2026 11:15 WIB

Pertamina Siap Ekspansi Avtur Hijau ke Pasar Global, Sertifikasi ISCC Jadi Modal Utama

Langkah ini memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok bahan bakar rendah karbon.

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Ahmad Fikri Noor
Minyak goreng bekas atau yang biasa disebut jelantah (used cooking oil/UCO) telah diolah menjadi bahan bakar pesawat. Inovasi hasil olahan PT Pertamina (Persero) ini dilabeli Sustainable Aviation Fuel (SAF) dan menghasilkan energi bersih, memangkas emisi karbon, serta ramah lingkungan.
Foto: Pertamina
Minyak goreng bekas atau yang biasa disebut jelantah (used cooking oil/UCO) telah diolah menjadi bahan bakar pesawat. Inovasi hasil olahan PT Pertamina (Persero) ini dilabeli Sustainable Aviation Fuel (SAF) dan menghasilkan energi bersih, memangkas emisi karbon, serta ramah lingkungan.

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSEL — PT Pertamina (Persero) membangun ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang terverifikasi secara global sebagai langkah memperluas pasar ke kawasan Eropa dan Asia-Pasifik. Upaya ini diarahkan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok bahan bakar penerbangan rendah karbon dunia.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menyampaikan pengembangan SAF menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mendorong dekarbonisasi sektor aviasi sekaligus meningkatkan daya saing di pasar internasional. Komitmen tersebut dipaparkan dalam forum ISCC Global Sustainability Conference 2026 di Brussel, Belgia.

Baca Juga

“Forum ini mempertemukan produsen SAF global dan pelaku industri penerbangan. Kehadiran Pertamina menunjukkan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi bagian dari solusi global. Kami siap memasuki pasar global melalui SAF,” ujar Agung, dikutip Sabtu (28/2/2026).

Menurut Agung, partisipasi dalam forum tersebut mencerminkan pengakuan terhadap kapasitas Indonesia sebagai produsen SAF berbasis limbah. Pengembangan bahan bakar berkelanjutan juga diposisikan sebagai kontribusi Indonesia dalam menekan emisi sektor penerbangan global.

Pertamina menargetkan pasar regional dan internasional di luar kebutuhan domestik. Perusahaan menyiapkan produk SAF agar memenuhi spesifikasi teknis, aspek keberlanjutan, serta standar internasional yang menjadi persyaratan ekspor.

“Di luar pasar domestik, kami menargetkan pasar penerbangan regional dan global, termasuk Eropa dan Asia-Pasifik. Kami siapkan SAF agar mampu bersaing dari sisi spesifikasi teknis, keberlanjutan, maupun standar global,” kata Agung.

Untuk mendukung penetrasi pasar internasional, Pertamina memastikan seluruh rantai nilai SAF telah mengantongi sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC). Sertifikasi tersebut mencakup pengumpulan bahan baku, proses pengolahan, hingga penyimpanan dan distribusi guna menjamin ketertelusuran serta kepatuhan terhadap standar karbon global.

Pengembangan SAF juga diarahkan untuk membangun ekosistem terintegrasi yang menghubungkan pengumpulan bahan baku dari tingkat komunitas dengan kebutuhan pasar penerbangan internasional.

“Fokus kami bukan hanya produksi, tetapi membangun ekosistem SAF yang kredibel, terukur, dan diakui secara global, sekaligus menghubungkan pengumpulan bahan baku di Indonesia dengan pasar penerbangan dunia,” tegas Agung.

Di internal perusahaan, pengembangan SAF menjadi bagian dari strategi transformasi bisnis melalui pendekatan dual growth. Pertamina mengoptimalkan aset kilang eksisting sekaligus membangun portofolio bisnis rendah karbon untuk jangka panjang.

“SAF bukan inisiatif yang berdiri sendiri, tetapi implementasi strategi dual growth kami, memaksimalkan aset kilang warisan sambil membangun bisnis rendah karbon yang dapat dikembangkan,” jelasnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by ESG Now (@esg.now)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement