Selasa 10 Mar 2026 06:10 WIB

Eco Bhinneka Muhammadiyah Ajak Disabilitas Lintas Iman Jaga Lingkungan

Penyandang disabilitas didorong jadi aktor utama gerakan konservasi lingkungan.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Gita Amanda
Didorong semangat inklusivitas, Eco Bhinneka Muhammadiyah menggelar program Together for People and Planet (ToPP) GreenAbility.  (ilustrasi)
Foto: www.freepik.com
Didorong semangat inklusivitas, Eco Bhinneka Muhammadiyah menggelar program Together for People and Planet (ToPP) GreenAbility. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK -- Didorong semangat inklusivitas, Eco Bhinneka Muhammadiyah menggelar program Together for People and Planet (ToPP) GreenAbility. Program ini mengajak kelompok difabel untuk turut berkontribusi dalam melestarikan bumi.

Dalam pernyataannya, Senin (9/3/2026), Eco Bhinneka Muhammadiyah mengatakan program ini mengusung pendekatan konservasi inklusif dengan melibatkan penyandang disabilitas lintas iman sebagai aktor utama dalam berbagai aksi lingkungan. Melalui pelatihan, penguatan kapasitas, serta kerja kolaboratif komunitas, para peserta didorong berperan aktif dalam edukasi lingkungan, pengelolaan limbah, hingga kampanye konservasi.

Baca Juga

Fasilitator nasional GreenAbility, Intan Mustikasari, menegaskan bahwa program ini berangkat dari keyakinan bahwa pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan dengan upaya memperluas ruang partisipasi bagi semua orang.

“GreenAbility adalah upaya menguatkan teman-teman disabilitas lintas iman agar mereka bisa berperan aktif dalam konservasi lingkungan sekaligus memperjuangkan kesetaraan akses di masyarakat,” ujar Intan dalam dialog di RRI Pontianak, Sabtu (7/3/2026) lalu.

Program ini merupakan pengembangan dari gerakan Eco Bhinneka Muhammadiyah yang sejak 2021 membangun kolaborasi lintas iman dalam isu lingkungan dan kebinekaan. Kini, pendekatan tersebut diperluas dengan melibatkan komunitas disabilitas sebagai bagian penting dari gerakan konservasi.

Pontianak menjadi salah satu lokasi pelaksanaan GreenAbility selain Jakarta, Bojonegoro di Jawa Timur, dan Manokwari di Papua Barat. Keempat wilayah ini dipilih karena memiliki potensi komunitas lokal yang kuat serta ruang kolaborasi lintas sektor yang terbuka.

Di Pontianak, program ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan. Tokoh agama, komunitas pemuda, organisasi masyarakat sipil, hingga komunitas disabilitas menunjukkan dukungan untuk terlibat dalam kegiatan yang akan berlangsung selama tiga tahun ke depan.

Fasilitator nasional lainnya, Windarti, mengatakan pendekatan lintas iman menjadi salah satu kekuatan utama program ini.

“Melalui pendekatan lingkungan, orang tidak lagi melihat perbedaan agama atau latar belakang. Kita bertemu di ruang yang sama untuk melakukan aksi nyata menjaga bumi bersama,” kata Windarti.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement