Rabu 08 Apr 2026 13:57 WIB

Plastik Kian Mahal, Momentum Ubah Kebiasaan Sekali Pakai?

Kenaikan harga plastik bisa menjadi titik awal perubahan perilaku konsumsi masyarakat

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Friska Yolandha
Pedagang merapikan gelas plastik di salah satu toko plastik di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (2/4/2026). Harga berbagai produk berbahan plastik mengalami kenaikan di sejumlah daerah dengan lonjakan yang cukup tinggi. Menurut pedagang, kenaikan harga mencapai hingga 80 persen, dengan rata-rata kenaikan berkisar antara Rp8.000 hingga Rp10.000. Sebagai contoh, harga kantong kresek ukuran 24 naik dari Rp13.000 menjadi Rp20.000 per pak. Kenaikan tersebut terjadi secara bertahap dalam tiga minggu terakhir. Penyebab utamanya adalah gangguan pasokan bahan baku dari Timur Tengah akibat konflik, yang menghambat impor nafta yang merupakan produk turunan minyak bumi.
Foto: Republika/Prayogi
Pedagang merapikan gelas plastik di salah satu toko plastik di kawasan Pasar Minggu, Jakarta, Kamis (2/4/2026). Harga berbagai produk berbahan plastik mengalami kenaikan di sejumlah daerah dengan lonjakan yang cukup tinggi. Menurut pedagang, kenaikan harga mencapai hingga 80 persen, dengan rata-rata kenaikan berkisar antara Rp8.000 hingga Rp10.000. Sebagai contoh, harga kantong kresek ukuran 24 naik dari Rp13.000 menjadi Rp20.000 per pak. Kenaikan tersebut terjadi secara bertahap dalam tiga minggu terakhir. Penyebab utamanya adalah gangguan pasokan bahan baku dari Timur Tengah akibat konflik, yang menghambat impor nafta yang merupakan produk turunan minyak bumi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kenaikan harga plastik mulai terasa di tengah tekanan biaya hidup yang semakin luas. Sebagai bahan turunan minyak dan gas, plastik ikut naik seiring mahalnya harga energi global.

Dalam paparan Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik diperkirakan melambat pada 2026. Salah satu penyebabnya adalah kenaikan harga energi akibat konflik dan ketidakpastian global. Dampaknya meluas, dari biaya produksi hingga harga pangan.

Baca Juga

Kenaikan ini tidak hanya dirasakan industri, tetapi juga masyarakat. Harga barang naik, sementara daya beli tertekan.

Sebelumnya, Ekonom Yanuar Rizky mengatakan, dampak energi bahkan menjalar ke sektor pertanian. Kenaikan harga gas mendorong naiknya amoniak sebagai bahan baku pupuk. “Ini bukan hanya soal energi, ini akan merembet juga ke inflasi pangan,” ujarnya.

Artinya, beban masyarakat bertambah dari berbagai sisi, termasuk dari hal yang selama ini dianggap kecil, seperti kemasan plastik. Di tengah kondisi ini, kenaikan harga plastik bisa menjadi titik awal perubahan. 

Selama ini, plastik sekali pakai sulit ditinggalkan karena murah dan praktis. Ketika harganya mulai naik, masyarakat punya alasan lebih kuat untuk mengurangi penggunaannya.

Head of Marketing Semen Merah Putih Nyiayu Chairunnikma mengatakan, langkah sederhana sebenarnya sudah bisa dilakukan. Misalnya, membawa tas belanja sendiri, menggunakan botol minum isi ulang, atau membawa wadah makanan saat membeli makanan di luar.

Kebiasaan ini mulai terlihat, terutama di kota besar. Memilah sampah dan mengurangi limbah juga perlahan menjadi bagian dari gaya hidup. “Peduli bukan hanya tentang program, tetapi tentang kebiasaan. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama,” ujarnya.

 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement