Sabtu 02 May 2026 06:00 WIB
Opini

Umat Tangguh, Ulama Berdaya: Pentingnya Pendidikan Iklim dan Lingkungan bagi Calon Imam

Ada andil manusia dalam krisis iklim yang dihadapi saat ini.

Perubahan iklim (ilustrasi)
Foto: Freepik
Perubahan iklim (ilustrasi)

Oleh: Riska Rahman, Ummah for Earth Project Lead untuk Greenpeace Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan adanya ancaman El Nino mulai Mei hingga September tahun ini. Fenomena yang juga disebut sebagai El Nino “Godzilla” ini diprediksi membuat musim kemarau lebih panjang dan kering, sehingga berpotensi memicu gagal panen dan kekeringan yang lebih parah dibanding Super El Nino 2023–2024 lalu.

Dalam kondisi normal, siklus El Nino biasanya terjadi antara tiga sampai lima tahun sekali. Namun, tingginya emisi gas rumah kaca memperparah krisis iklim dan membuat siklus El Nino diperkirakan terjadi lebih sering serta lebih ekstrem dibanding sebelumnya. Ini bukan kebetulan, melainkan dampak dari kelalaian manusia yang gagal menjaga keseimbangan alam.

Baca Juga

Sayangnya, faktor tersebut jarang dianggap sebagai penyebab bencana alam oleh mayoritas masyarakat Indonesia, termasuk umat Muslim. Bagi sebagian masyarakat, berbagai kemalangan sering diterima semata sebagai takdir, ujian, maupun balasan atas dosa.

Padahal, ada andil manusia dalam krisis iklim yang dihadapi saat ini. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Ar-Rum ayat 41, kerusakan di muka bumi tidak lepas dari perbuatan manusia, termasuk konsumsi berlebihan, deforestasi, dan penanganan sampah yang buruk.

Aspek ini kerap luput diajarkan dalam majelis ilmu dan dakwah. Banyak ulama dan pemuka agama lebih berfokus pada hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) dan sesama manusia (hablum minannas), tetapi belum banyak membahas hubungan manusia dengan alam (hablum minal ‘alam).

Lingkungan memegang peran penting dalam Islam, sebagaimana disampaikan dalam berbagai ayat Al-Qur’an dan hadis. Air, misalnya, merupakan sumber daya esensial yang digunakan untuk bersuci (thaharah). Selain itu, manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi yang diamanahkan menjaga keseimbangan, termasuk keseimbangan alam.

Pemuka agama seharusnya memegang peran kunci dalam meningkatkan kesadaran menjaga lingkungan melalui berbagai ruang dakwah, mulai dari mimbar masjid hingga ruang kelas. Riset Purpose dan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) pada 2024 menyebutkan 22 persen responden lebih percaya pada ulama dalam pembahasan isu iklim dibanding aktivis lingkungan, pemerintah, maupun ilmuwan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement