REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Tenda-tenda pengungsi Gaza dilanda wabah tikus yang menggigit jari dan ibu jari kaki anak-anak ketika mereka tidur. Tidak hanya berisiko menyebarkan penyakit, tikus juga merusak barang-barang pengungsi yang masih tersisa.
Wabah ini terjadi ketika lebih dari 2 juta warga Gaza terpaksa mengungsi akibat serangan Israel sejak dua tahun yang lalu. Sebagian besar warga kehilangan rumah mereka, hingga terpaksa tinggal di tempat-tempat terbuka seperti pinggir jalan dan puing-puing bangunan.
Beberapa hari sebelum pernikahannya, pengungsi di Khan Younis, Amina Abu Selmi menemukan tikus menggerogoti pakaian dan tas perlengkapan pernikahannya. Ia menunjukkan lubang gigitan tikus di gaun pernikahannya.
"Semua kebahagiaan saya musnah, berubah menjadi kesedihan, menjadi patah hati, semua barang-barang saya hilang, perlengkapan pernikahan saya hilang," katanya di tenda reyot yang ia tempati bersama keluarganya, Jumat (1/5/2026).
Pengungsi lainnya, Khalil Al-Mashharawi mengatakan beberapa pekan lalu tikus menggigit jarinya dan jari dan ibu jari kaki putranya yang berusia tiga tahun. Al-Mashharawi harus tidur bergantian dengan istrinya untuk menjaga putra mereka dari gigitan tikus.
"Mereka menyerang kami saat kami tidur, mereka hilang satu-dua hari, tapi kemudian menyerang lagi, (menerobos) lewat bawah lantai rumah," kata Al-Mashhrawi yang tinggal di puing-puing rumahnya di Tuffah, utara Gaza, dikutip dari laman Reuters.
Ia mengatakan perangkap tikus tidak efektif dalam mengatasi wabah. Kepala rumah sakit Al-Shifa, Mohammed Abu Selmia memperkirakan wabah tikus akan semakin memburuk pada musim panas yang akan segera tiba. Israel juga melarang peralatan pengendali hama seperti racun tikus masuk ke Gaza.
Israel melarang semua benda yang mereka anggap memiliki dwi-fungsi, untuk militer dan sipil. COGAT, badan militer Israel yang mengontrol akses ke Gaza, mengatakan dalam upaya bersama dengan "semua aktor dan mitra internasional" untuk mengatasi masalah sanitasi, mereka sudah memfasilitasi pengiriman sekitar 90 ton bahan pengendali hama dan lebih dari 1.000 perangkap tikus ke wilayah tersebut dalam beberapa minggu terakhir.
"Setiap hari, rumah sakit mencatat kasus pasien yang dirawat karena insiden terkait tikus, terutama di kalangan anak-anak, lansia, dan orang sakit," kata Abu Selmia.
Abu mengatakan pengungsi juga khawatir dengan penyebaran penyakit berbahaya, termasuk demam gigitan tikus dan leptospirosis.
Rekomendasi
-
Kamis , 14 May 2026, 12:34 WIB
Dari Sabang hingga Merauke, Pendampingan PNM Jadi Ruang Tumbuh Usaha Ibu-Ibu Prasejahtera
-
-
Kamis , 14 May 2026, 10:12 WIBPengelolaan Sawit Dinilai Jadi Pilar Penting Ketahanan Energi Nasional
-
Kamis , 14 May 2026, 09:22 WIBIndonesia dan UNEP Perkuat Kerja Sama Pasar Karbon Kehutanan
-
Kamis , 14 May 2026, 00:21 WIBPeringati HUT ke-61, PGN Gelar Khitan Massal di Wilayah Operasional
-
Rabu , 13 May 2026, 17:23 WIBGen-Z Dibidik Jadi Motor Baru UMKM Berbasis Sawit
-