Ahad 10 May 2026 13:59 WIB

Volume Sampah di Indonesia Capai 141 Ribu Ton per Hari, Menteri LH: 75 Persen Belum Diolah

Delapan ribu ton diantaranya merupakan sampah dari Jakarta.

Rep: Bayu Adji Prihammanda,/ Red: A.Syalaby Ichsan
Pekerja beraktivitas di dekat tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Rabu (1/4/2026). Hingga saat ini, kondisi sampah masih tampak menggunung dengan ketinggian yang mencapai sekitar enam meter.  Tumpukan sampah tersebut didominasi oleh sampah sayuran dan buah.  Berdasarkan pantauan Republika di lokasi sejak pukul 10.45 hingga 11.45 WIB, belum terlihat adanya truk yang mengangkut sampah untuk dibuang ke lokasi pengolahan selanjutnya maupun ke TPST Bantargebang. Sejumlah pedagang mengeluhkan kondisi tersebut karena dinilai mengganggu aktivitas dan kenyamanan di area pasar.
Foto: Republika/Prayogi
Pekerja beraktivitas di dekat tumpukan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Rabu (1/4/2026). Hingga saat ini, kondisi sampah masih tampak menggunung dengan ketinggian yang mencapai sekitar enam meter. Tumpukan sampah tersebut didominasi oleh sampah sayuran dan buah. Berdasarkan pantauan Republika di lokasi sejak pukul 10.45 hingga 11.45 WIB, belum terlihat adanya truk yang mengangkut sampah untuk dibuang ke lokasi pengolahan selanjutnya maupun ke TPST Bantargebang. Sejumlah pedagang mengeluhkan kondisi tersebut karena dinilai mengganggu aktivitas dan kenyamanan di area pasar.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Kementerian Lingkungan Hidup (LH) mencatat volume sampah di Indonesia dalam sehari bisa mencapai 141 ribu ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 8.000 ton berasal dari Jakarta. 

Menteri LH Moh Jumhur Hidayat mengatakan, pemerintah saat ini tengah fokus untuk mengatasi permasalahan sampah. Pasalnya, saat ini baru sekitar 25 persen dari volume sampah harian yang bisa diolah secara baik. Karena itu, diperlukan upaya untuk bisa mengatasi masalah sampah nasional.  

Baca Juga

"Seluruh Indonesia ini ada 141 ribu ton sampah setiap hari. Di Jakarta kira-kira 8.000 ton sampah setiap hari. Faktanya di seluruh Indonesia kita berbicara, masih 75 persen belum terolah dengan baik," kata dia di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Ahad (10/5/2026).

Karena itu, ia mendukung Gerakan Pilah Sampah yang diinisiasi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta untuk mengurangi sampah yang masuk ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Menurut dia, Jakarta memang sudah semestinya menjadi contoh dalam penanganan sampah yang berkelanjutan. 

photo
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago (tengah) berbincang dengan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat (kiri) dan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru (kanan) usai apel kesiapsiagaan penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan 2026 di Griya Agung, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (6/5/2026). - (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

Jumhur juga berharap gerakan itu dapat dilakukan di berbagai daerah lainnya. Pasalnya, penanganan sampah memang harus dilakukan mulai dari hulu."Tapi, ini penting bagi pemda-pemda seluruh Indonesia bahwa ketika masyarakat mau memilah, tapi kadang-kadang tempatnya enggak ada ketika di tempat-tempat sampah," kata dia.

Karena itu, ia meminta pemerintah daerah untuk memfasilitasi masyarakat yang sudah melakukan pemilahan sampah. Tanpa kebijakan yang benar, gerakan yang dilakukan di masyarakat tidak akan berdampak

"Gerakan pilah sampah bertemu dengan kebijakan di atas menyediakan tempat, akhirnya terjadilah pemilahan sampah secara sempurna,"kata dia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement