Jumat 05 Jun 2026 06:03 WIB

Investasi Saja Tak Cukup, ESG Jadi Kunci Masa Depan Hilirisasi Nikel

Industri nikel nasional juga dituntut memenuhi standar ESG

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Intan Pratiwi
 Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Komite Bilateral UK dan Irlandia
Foto: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Komite Bil
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Komite Bilateral UK dan Irlandia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Komite Bilateral UK dan Irlandia menilai keberhasilan hilirisasi nikel Indonesia ke depan tidak lagi cukup diukur dari besarnya investasi dan kapasitas produksi. Industri nikel nasional juga dituntut memenuhi standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang semakin menjadi syarat utama untuk mengakses pasar global.

Isu tersebut menjadi fokus dalam diskusi Responsible Downstreaming at Scale: North Maluku Sustainable Experience yang digelar dalam rangka Indonesia Critical Minerals Conference 2026. Forum itu mempertemukan pemerintah daerah, pelaku industri, organisasi internasional, dan berbagai pemangku kepentingan sektor mineral kritis untuk membahas praktik hilirisasi yang bertanggung jawab di tengah meningkatnya kebutuhan mineral bagi transisi energi dunia.

"Banyak peserta datang dengan berbagai perspektif dan ekspektasi mengenai industri nikel Indonesia. Namun setelah melihat langsung operasional di lapangan, investasi lingkungan yang dilakukan, serta keterbukaan berbagai pihak dalam berdialog, kami melihat sebuah ekosistem industri yang beroperasi pada skala kelas dunia dan terus berupaya meningkatkan standar keberlanjutannya," kata Ketua ESDM Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia, Ovan Tito, di Jakarta, dikutip Kamis (4/6/2024).

Diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian North Maluku Sustainability Trip yang berlangsung di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara, pada 1-2 Juni 2026. Kunjungan lapangan dilakukan untuk melihat perkembangan ekosistem hilirisasi nikel serta berbagai upaya yang dilakukan guna memperkuat praktik responsible downstreaming.

Di tengah ekspansi industri yang berlangsung cepat, kontribusi hilirisasi terhadap perekonomian nasional terus meningkat. Realisasi investasi hilirisasi pada kuartal I 2026 mencapai sekitar Rp147,5 triliun, dengan sektor nikel menyumbang sekitar Rp41,5 triliun.

Nilai ekspor produk turunan nikel juga melonjak hampir sepuluh kali lipat, dari 3,3 miliar dolar AS pada 2018 menjadi sekitar 34 miliar dolar AS pada 2024. Peningkatan tersebut menunjukkan semakin besarnya nilai tambah yang dihasilkan di dalam negeri.

"Ke depan, akses pasar global akan semakin ditentukan oleh kemampuan produsen untuk menunjukkan praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola yang dapat diverifikasi. Karena itu, penting bagi industri untuk mengacu pada standar yang kredibel, relevan, dan berbasis sains agar klaim mengenai praktik-praktik tersebut dapat diukur secara objektif," ujar Executive Director NiPERA, Chris Schlekat.

Maluku Utara menjadi salah satu daerah yang paling merasakan dampak hilirisasi nikel. Dengan kontribusi sekitar 13 hingga 15 persen terhadap pasokan nikel dunia, provinsi tersebut kini menjadi simpul penting dalam rantai pasok mineral kritis global.

Pada kuartal I 2026, ekonomi Maluku Utara tumbuh 19,64 persen, tertinggi di Indonesia. Aktivitas pengolahan dan pertambangan menjadi penopang utama pertumbuhan tersebut. Komoditas berbasis besi baja, nikel, dan bahan kimia anorganik menyumbang 96,65 persen total ekspor daerah.

Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, mengatakan keberhasilan hilirisasi tidak dapat dilihat hanya dari pertumbuhan ekonomi maupun investasi yang masuk. Menurut dia, manfaat industri juga harus dirasakan masyarakat melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia dan perluasan kesempatan ekonomi.

"Karena itu kami sedang memperkuat pendidikan dan keterampilan masyarakat agar lebih banyak warga Maluku Utara dapat mengambil peran yang lebih besar dalam industri. Kami juga sedang mendorong pengembangan pendidikan vokasi dan politeknik yang relevan dengan kebutuhan sektor industri, sehingga ke depan semakin banyak masyarakat lokal yang dapat mengisi posisi-posisi strategis," tutur Sherly.

Sherly menargetkan hingga 2030 Maluku Utara tidak hanya memiliki kawasan industri yang lebih besar, tetapi juga masyarakat yang memperoleh akses yang lebih baik terhadap pendidikan, layanan kesehatan, infrastruktur, dan peluang ekonomi. Sorotan terhadap praktik ESG Indonesia juga datang dari pelaku industri global. Co-Head of Responsible Sourcing Glencore, Ilse Schoeters, mengatakan industri nikel Indonesia berkembang sangat cepat dibandingkan banyak negara produsen lainnya.

"Industri nikel Indonesia berkembang dalam kecepatan yang luar biasa. Dalam waktu kurang dari satu dekade, kawasan industri dan rantai nilai yang kompleks telah tumbuh dengan sangat cepat. Kami melihat ada perusahaan yang sudah menunjukkan kemajuan dalam mengintegrasikan ESG ke dalam operasionalnya, sementara beberapa yang lain masih dalam proses membangun sistem yang diperlukan," ujarnya.

Menurut Community Outreach Coordinator IRMA, Andre Barahamin, transparansi dan audit independen akan menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan pasar terhadap industri nikel Indonesia. Ia mengatakan pengakuan global terhadap praktik pertambangan yang bertanggung jawab sangat bergantung pada kesediaan perusahaan menjalani proses evaluasi yang terbuka dan independen.

Audit tersebut dapat membantu perusahaan memetakan area perbaikan sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat, investor, dan pasar global. Dengan tuntutan pasar yang terus berkembang, keberhasilan hilirisasi nikel Indonesia kini tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi yang masuk. Kemampuan industri menunjukkan kinerja keberlanjutan yang terukur dan dapat diverifikasi menjadi faktor yang semakin menentukan daya saing di pasar global.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi