REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Fisikawan peraih Hadiah Nobel sekaligus mantan Menteri Energi Amerika Serikat, Steven Chu, mengingatkan bahwa dunia masih memiliki peluang menghindari dampak terburuk perubahan iklim, tetapi waktu untuk bertindak semakin sempit. Menurutnya, penundaan aksi hanya akan memperbesar risiko krisis iklim yang lebih parah pada masa mendatang.
Peringatan tersebut disampaikan Chu dalam wawancara dengan Xinhua di sela-sela Pertemuan Peraih Nobel Lindau ke-75 di Jerman yang berakhir pada Jumat (3/7). Ia mengibaratkan upaya mengatasi perubahan iklim seperti memutar haluan kapal Titanic setelah gunung es sudah terlihat di depan.
"Semakin lama kita menunggu, semakin besar kemungkinan terjadinya tabrakan," kata Chu.
Menurut dia, transisi menuju energi bersih dan sistem pembangunan yang lebih berkelanjutan bukanlah proses yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Perubahan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 50 tahun, bahkan jika seluruh dunia bergerak secepat mungkin.
Chu mengatakan berbagai fenomena cuaca ekstrem yang kini terjadi sebenarnya telah diprediksi para ilmuwan sejak satu hingga dua dekade lalu. Gelombang panas yang lebih sering, badai yang semakin kuat, hujan ekstrem penyebab banjir, hingga kenaikan permukaan laut merupakan dampak yang telah lama diperkirakan akan terjadi.
Ia menjelaskan ancaman yang lebih besar justru berasal dari panas yang tersimpan di lautan. Menurut Chu, sekitar 90 persen panas tambahan akibat pemanasan global diserap oleh laut sehingga dampaknya belum sepenuhnya dirasakan saat ini.
Karena kapasitas panas laut sangat besar, diperlukan waktu sekitar 50 hingga 100 tahun hingga panas tersebut kembali memengaruhi sistem iklim global. Kondisi itu membuat dampak perubahan iklim yang terjadi sekarang baru mencerminkan sebagian kecil dari risiko yang akan dihadapi pada masa mendatang.
Meski demikian, Chu menilai sebagian dampak perubahan iklim masih dapat dikurangi. Namun, upaya tersebut tidak cukup hanya dengan menekan emisi gas rumah kaca, melainkan juga harus disertai teknologi yang mampu menghilangkan karbon dioksida dan gas rumah kaca lain dari atmosfer.