Senin 20 Jul 2026 07:47 WIB

Dubai Jajaki Produksi Avtur Hijau dari Limbah Organik

Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekonomi sirkular.

Ilustrasi pemanfaatan sustainable aviation fuel (SAF).
Foto: Dok Pertamina
Ilustrasi pemanfaatan sustainable aviation fuel (SAF).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dewan Energi Dubai (Dubai Supreme Council of Energy) menjajaki peluang memproduksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan (sustainable aviation fuel/SAF) dari limbah organik yang dihasilkan dari negara tersebut. Dikutip dari Zawya pada Senin (20/7/2026), rencana tersebut dibahas dalam pertemuan Dewan Energi Dubai sebagai bagian dari upaya mendukung transisi menuju sektor penerbangan yang lebih ramah lingkungan.

Inisiatif itu sejalan dengan upaya global untuk meningkatkan porsi penggunaan SAF yang dicampurkan dengan bahan bakar pesawat konvensional dalam beberapa tahun mendatang. Selain menyediakan alternatif bahan bakar yang lebih bersih bagi industri penerbangan, proyek tersebut juga diharapkan memperkuat penerapan ekonomi sirkular di Dubai melalui pemanfaatan limbah organik.

Baca Juga

Meski begitu, saat ini, Dewan Energi Tertinggi Dubai belum mengungkapkan rincian lebih lanjut mengenai proyek tersebut, termasuk kapasitas produksi, jadwal pelaksanaan, maupun nilai investasinya.

Pengembangan SAF di Indonesia 

Di dalam negeri, pengembangan SAF juga terus dilakukan salah satunya oleh PT Pertamina (Persero). Perusahaan migas terbesar milik negara itu menggandeng Boeing menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) untuk menjajaki pengembangan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia. Ini bagian dari upaya mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan dan percepatan transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE).

Sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, Indonesia terus mendorong pengembangan SAF, salah satu solusi mengurangi emisi karbon di sektor penerbangan sekaligus mendukung terciptanya industri penerbangan yang lebih berkelanjutan.

Berdasarkan laporan ASEAN 2050 SAF Outlook, Indonesia menempati peringkat tiga besar di ASEAN dengan potensi surplus produksi SAF terbesar yang diproyeksikan mencapai 2,2 juta barel per hari pada 2050.

Melalui kerja sama ini, Pertamina dan Boeing akan berkolaborasi dalam menjajaki berbagai aspek pengembangan ekosistem SAF di Indonesia. Termasuk identifikasi potensi bahan baku (feedstock), pengembangan teknologi, serta dukungan terhadap pengembangan kebijakan yang diperlukan guna mempercepat implementasinya.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, mengatakan, bagi Pertamina, kolaborasi ini bukan sekadar pengembangan bahan bakar, tetapi investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem industri SAF nasional.

"Dengan potensi sumber daya domestik melimpah, kapabilitas pengolahan Pertamina, serta keahlian global Boeing di sektor aviasi, kami optimistis kolaborasi ini akan mempercepat pengembangan industri SAF yang berdaya saing, menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan," katanya dalam keterangan, Rabu (8/7/2026).

 

Berita Lainnya

Rekomendasi