REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perubahan iklim mengakibatkan warga yang tinggal di berbagai kota Indonesia kehilangan rata-rata 84 jam tidur per tahun akibat suhu malam yang semakin panas, dengan sekitar 7 jam di antaranya disebabkan langsung oleh perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Hilangnya waktu tidur ini mengancam kesehatan fisik dan produktivitas masyarakat.
Laporan dari Climate Central berjudul Climate Change is Costing People Sleep mengungkapkan, secara global, rata-rata orang kehilangan hampir 56 jam tidur per tahun akibat suhu malam yang tinggi selama periode 2020-2025. Dari jumlah tersebut, sekitar enam jam, atau lebih dari 10 persen dapat diatribusikan pada pemanasan akibat perubahan iklim.
Di Indonesia, dampaknya jauh lebih parah dengan warga enam kota besar kehilangan jam tidur melampaui rata-rata global, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat kehilangan tidur tertinggi di Asia Tenggara. Rincinya, warga Malang kehilangan jam tidur per tahun sebanyak 59 jam, Bandung 61 jam, Medan 78 jam, Semarang 83 jam, Jakarta 84 jam, dan Surabaya mencapai 91 jam.
Ketua Aliansi Iklim dan Kesehatan Global, sekaligus Presiden Terpilih Asosiasi Medis Kanada dan juga seorang dokter unit gawat darurat, Courtney Howard menjelaskan, orang dewasa membutuhkan 7-9 jam tidur per malam untuk kesehatan optimal. Peningkatan suhu malam hari membahayakan tidur manusia, dengan efek yang lebih buruk bagi penduduk negara berpenghasilan rendah, kelompok masyarakat lanjut usia, dan wanita.
“Tidur kurang dari 7 jam per malam dikaitkan dengan gangguan fungsi kekebalan tubuh dan kinerja, serta peningkatan kesalahan, nyeri, dan kecelakaan. Jika kurang tidur terus berlanjut secara teratur, hal itu dikaitkan dengan penambahan berat badan, diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, dan peningkatan risiko kematian,” kata Howard seperti dikutip dari pernyataan Climate Central, Senin (20/7/2026).
Kehilangan jam tidur di Indonesia relatif lebih buruk karena diperparah efek urban heat island yang memperkuat suhu malam hari, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan. Kepadatan penduduk tinggi dan terbatasnya ruang terbuka hijau memperburuk akumulasi panas.
Meskipun pendingin rungan (AC) dapat membantu melindungi masyarakat dari malam yang panas, akses terhadap pendinginan sangat terkait dengan pendapatan dan distribusinya sangat tidak merata di banyak negara panas, termasuk Indonesia. Hanya sekitar 35 persen rumah tangga global yang memiliki AC pada 2021, dan tingkat kepemilikan di Indonesia jauh di bawah angka tersebut, terutama di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah.
View this post on Instagram