REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Transformasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Jawa Tengah, menuju Eco-Industrial Park (EIP) membutuhkan kolaborasi multipihak, terutama dalam pengembangan energi bersih, transfer teknologi, pembiayaan hijau, dan penguatan rantai pasok. Hal itu dibahas dalam diskusi terpumpun “Diplomasi Dekarbonisasi yang Berdaya Ungkit: Merumuskan Strategi Kemitraan Transformatif di KEK Industropolis Batang” yang digelar Kementerian Luar Negeri RI dan Synergy Policies, dengan dukungan ISEI Pusat, ISEI Semarang, dan Viriya ENB di UNNES, pekan lalu.
Direktur Eksekutif Synergy Policies Dinna Prapto Raharja mengatakan transformasi kawasan tidak cukup hanya dengan menarik investasi, tetapi juga harus mendorong teknologi bersih, memperkuat rantai pasok, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Transformasi KEK Industropolis Batang tidak cukup hanya dengan menarik investasi. Kita perlu memastikan investasi tersebut membawa teknologi bersih, memperkuat rantai pasok, membuka peluang bagi pemasok lokal, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar,” kata Dinna melalui keterangan tertulis yang dikutip Selasa (11/8/2026).
Menurut Dinna, terdapat empat hal yang perlu diperkuat, yakni kerja sama Indonesia-China melalui Two Countries Twin Parks (TCTP), pemetaan energi bersih, integrasi rantai pasok dan transfer teknologi beserta pembiayaannya, serta pelibatan masyarakat.
Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK Edwin Manansang mengatakan TCTP dapat menjadi katalis pengembangan kawasan industri berkelanjutan. Nilai investasi dalam kerangka kerja sama tersebut diperkirakan mencapai Rp 37,1 triliun, dengan Batang menjadi salah satu kawasan kerja sama Indonesia-China.
“Dengan investasi yang diperkirakan mencapai Rp 37,1 triliun, Batang memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi kawasan industri yang tidak hanya berorientasi pada investasi, tetapi juga teknologi, energi bersih, dan peningkatan daya saing industri,” kata Edwin.
Kepala Bappeda Jawa Tengah Yusmanto mengatakan Batang telah memiliki modal awal untuk dikembangkan sebagai kawasan industri hijau, antara lain PLTS, IPAL terintegrasi berkapasitas 18.000 meter kubik per hari, jaringan perpipaan 18 kilometer, dan fasilitas pengolahan sampah berkapasitas 35 ton per hari.
“KEK Industropolis Batang sudah memiliki sejumlah modal awal. Tantangannya sekarang adalah memastikan capaian tersebut terus ditingkatkan secara konsisten dan terukur, baik dari sisi lingkungan, ekonomi maupun sosial,” ujar Yusmanto.