Rabu 26 Aug 2026 18:54 WIB

Pakar: El Nino tidak Menyalakan Api, Manusia Tetap Jadi Pemicu Karhutla

Sebagian besar kebakaran berkaitan dengan aktivitas manusia.

Rep: Frederikus Dominggus Bata/ Red: Friska Yolandha
Petugas Manggala Agni Daops Bukit Tempurung memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Desa Pandan Sejahtera, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Selasa (25/8/2026). Hingga Selasa (25/8) atau memasuki hari ketiga kebakaran, Manggala Agni Daops Bukit Tempurung dan tim gabungan masih mengupayakan pemadaman di lahan gambut yang telah ditanami kelapa sawit dan pinang tersebut dengan membuat sumur bor karena minimnya sumber air.
Foto: ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan
Petugas Manggala Agni Daops Bukit Tempurung memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Desa Pandan Sejahtera, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Selasa (25/8/2026). Hingga Selasa (25/8) atau memasuki hari ketiga kebakaran, Manggala Agni Daops Bukit Tempurung dan tim gabungan masih mengupayakan pemadaman di lahan gambut yang telah ditanami kelapa sawit dan pinang tersebut dengan membuat sumur bor karena minimnya sumber air.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) Asep Karsidi menegaskan fenomena El Nino bukan penyebab awal kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Aktivitas manusia tetap menjadi pemicu utama kebakaran, sedangkan kondisi kemarau kering memperbesar risiko serta mempercepat penyebaran api.

Asep mengatakan kondisi kemarau pada Agustus 2026 semakin intensif. Berdasarkan evaluasi dan analisis BMKG dan NOAA, sebanyak 76,5 persen zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau, sementara curah hujan rendah mendominasi 90,79 persen wilayah.

Baca Juga

“Indonesia menghadapi kombinasi musim kemarau aktif, El Nino sangat kuat, dan kecenderungan Indian Ocean Dipole positif,” kata Asep saat dimintai tanggapan mengenai karhutla, dikutip Rabu (26/8/2026).

Menurut Dosen Geografi Universitas Indonesia itu, kombinasi kondisi tersebut mengurangi pembentukan awan dan hujan sehingga vegetasi dan lahan gambut menjadi lebih mudah terbakar. Namun, kondisi iklim tersebut tidak dengan sendirinya menimbulkan api.

“Iklim bukan sumber awal kebakaran, tetapi menjadi faktor penguat yang membuat api lebih mudah muncul, meluas, dan sulit dikendalikan,” ujar Asep.

Ia menyebut aktivitas manusia, termasuk pembukaan lahan dengan cara tebas bakar, menjadi penyebab utama karhutla. Karena itu, Sumatra Selatan, Riau, Jambi, dan Kalimantan perlu meningkatkan kewaspadaan melalui pemantauan titik panas, patroli, serta kesiapan pemadaman.

Pakar karhutla, Raffles B Panjaitan, juga menegaskan El Nino tidak dapat diposisikan sebagai pihak yang menyalakan api. Menurutnya, setiap kebakaran tetap membutuhkan pemicu sehingga upaya pencegahan perlu diarahkan pada aktivitas manusia di kawasan rawan kebakaran.

“El Nino tidak menyalakan api. Api tetap membutuhkan pemicu,” kata Raffles.

Ia mengatakan sebagian besar kebakaran berkaitan dengan aktivitas manusia, mulai dari pembukaan lahan dengan membakar, kelalaian menggunakan api, hingga pembakaran yang tidak terkendali. Karena itu, pencegahan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi pemantauan, patroli, dan peralatan pemadaman, tetapi juga perlu menyentuh perilaku masyarakat.

 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi