Jumat 28 Aug 2026 22:52 WIB

Yayasan Nurul Misha Devya Dorong Kesetaraan Akses Kesehatan Gigi Anak Disabilitas

Yayasan Nurul Misha Devya gelar bakti sosial yang libatkan 300 anak dan 50 orang tua

Yayasan Nurul Misha Devya menggelar bakti sosial penyuluhan, pemeriksaan, dan perawatan kesehatan gigi bagi anak berkebutuhan khusus di SLB A Negeri Pembina, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2026).
Foto: dok istimewa
Yayasan Nurul Misha Devya menggelar bakti sosial penyuluhan, pemeriksaan, dan perawatan kesehatan gigi bagi anak berkebutuhan khusus di SLB A Negeri Pembina, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, 

JAKARTA — Anak penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk memperoleh akses terhadap layanan kesehatan yang layak, termasuk kesehatan gigi dan mulut. Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan bakti sosial penyuluhan, pemeriksaan, dan perawatan kesehatan gigi bagi anak berkebutuhan khusus yang digelar Yayasan Nurul Misha Devya di SLB A Negeri Pembina, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2026).

Kegiatan bertema “Beauty Beyond Vision: Empowering Every Smile” tersebut menyasar sekitar 300 anak penyandang disabilitas. Selain itu, sekitar 50 orang tua, pendamping, dan guru turut dilibatkan untuk mendapatkan edukasi mengenai pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak.

Istri Menteri Kesehatan, Ida Rachmawati, mengapresiasi perhatian yang diberikan kepada anak-anak penyandang disabilitas melalui kegiatan tersebut. Menurut dia, kepedulian terhadap kesehatan perlu diberikan kepada setiap anak tanpa membedakan kondisi maupun kemampuan mereka.

Ida mengatakan, kegiatan semacam ini juga dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih banyak bersyukur atas kondisi yang dimiliki sekaligus mendorong kepedulian terhadap anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih.

“Siapa pun harus mendapatkan kesempatan dan fasilitas kesehatan yang sama, baik yang sehat maupun yang memiliki disabilitas,” ujar Ida.

Menurut Ida, kehadiran masyarakat dan tenaga kesehatan di tengah anak-anak penyandang disabilitas bukan hanya memberikan manfaat bagi penerima layanan. Interaksi tersebut juga dapat membangun kesadaran dan kepedulian masyarakat agar tidak melupakan kelompok yang membutuhkan dukungan.

Kegiatan bakti sosial ini memberikan layanan yang tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga promotif dan preventif. Anak-anak mendapatkan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut, termasuk edukasi dengan alat bantu yang disesuaikan untuk peserta tunanetra.

Selain penyuluhan, peserta mendapatkan demonstrasi cara menyikat gigi yang benar, pemeriksaan kondisi gigi dan mulut, serta perawatan sederhana sesuai indikasi. Peserta yang membutuhkan penanganan lebih lanjut juga diarahkan untuk mendapatkan rujukan.

Orang tua, guru, dan pendamping turut mendapatkan kesempatan berkonsultasi mengenai kesehatan gigi anak. Keterlibatan mereka dinilai penting karena pemeliharaan kesehatan gigi perlu dilakukan secara konsisten dalam keseharian, baik di rumah maupun di sekolah.

drg Devya Linda SY, SpBMMF, FISID mengatakan, pemilihan anak penyandang disabilitas sebagai sasaran kegiatan tahun ini merupakan bagian dari upaya memberikan kesempatan dan fasilitas yang sama kepada seluruh anak. Menurut dia, anak penyandang disabilitas merupakan bagian dari generasi penerus bangsa yang juga perlu memperoleh dukungan untuk berkembang.

“Ini kesempatan buat saya untuk memberikan fasilitas yang sama buat anak-anak disabilitas. Kita tidak memandang siapa orangnya atau siapa anaknya. Mereka adalah anak bangsa Indonesia yang perlu kita beri fasilitas dan semangat,” kata Devya Linda.

Devya Linda menjelaskan, kegiatan sosial tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang telah dilakukan secara rutin sejak 2019 dengan sasaran anak-anak dan generasi muda. Setiap tahunnya, kegiatan dirancang dengan tema dan sasaran yang berbeda.

Menurut dia, perhatian terhadap kesehatan anak perlu diberikan sejak dini karena kondisi kesehatan turut mendukung proses belajar dan tumbuh kembang mereka. Karena itu, akses terhadap layanan kesehatan tidak semestinya menjadi berbeda hanya karena seseorang memiliki keterbatasan tertentu.

Selain memberikan layanan kepada peserta, Devya Linda juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan kesehatan gigi. Ia menilai kebiasaan sederhana seperti menyikat gigi dengan cara yang tepat dan menjaga kebersihan gigi perlu menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.

“Semua penyakit gigi berawal dari bagaimana kita memperlakukan gigi kita sendiri, dengan menjaga, merawat, dan membersihkannya. Kalau cara menyikat gigi kita benar dan waktunya tepat, kita bisa terhindar dari penyakit gigi,” ujarnya.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari rangkaian ulang tahun ke-17 Nabila Misha dan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sejumlah tamu undangan turut hadir, di antaranya Ida Rachmawati, Cynthia Ganesha, Hetty Andika Perkasa, serta Adinda Yuanita.

Melalui kegiatan ini, perhatian terhadap kesehatan gigi anak penyandang disabilitas diharapkan tidak berhenti pada pemeriksaan dan perawatan selama kegiatan berlangsung. Edukasi kepada keluarga dan pendamping menjadi bagian penting agar kebiasaan menjaga kesehatan gigi dapat terus diterapkan setelah anak kembali ke rumah dan sekolah.

Kesetaraan akses kesehatan pada akhirnya bukan hanya tentang tersedianya layanan, tetapi juga memastikan setiap anak memperoleh pelayanan yang sesuai dengan kebutuhannya. Bagi anak penyandang disabilitas, pendekatan tersebut menjadi penting agar mereka tetap mendapatkan kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat dan meraih masa depan.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi