REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tanaman yang tumbuh sebagai pagar hidup di sekitar rumah kini membawa Yusmiati atau Ibu Iyus melangkah dari desanya di Cirebon hingga ke Jakarta. Berbekal pengetahuan tentang tanaman obat yang diwariskan oleh orang tua dan nenek, ia bersama empat ibu rumah tangga lainnya mengolah berbagai tanaman menjadi racikan dengan jenama Teh Ibu Iyus.
Daun pecah beling, kunyit, jahe, serta sejumlah tanaman lainnya sebelumnya ditanam di sekitar rumah sebagai pagar hidup. Sejak 2024, tanaman tersebut mulai dikembangkan menjadi bahan baku usaha teh herbal yang dirintis Ibu Iyus bersama rekan-rekannya di Desa Windujaya, Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Tanaman herbal tersebut dibudidayakan secara organik dengan menggunakan pupuk kandang. Pengetahuan mengenai manfaat tanaman itu, menurut Ibu Iyus, berawal dari cerita dan pengalaman orang tua serta neneknya.
“Memang saya senang dengan pengobatan dan ingin hidup sehat. Saya sering bertanya kepada orang tua dan nenek, tanaman ini untuk apa dan apa manfaatnya. Dari situ akhirnya saya mulai menanam,” kata Ibu Iyus.
Bersama empat ibu rumah tangga lainnya, pengetahuan tersebut kemudian dikembangkan menjadi usaha. Pada 2024, mereka mulai melakukan penelitian dan pengembangan sebelum akhirnya memproduksi racikan teh herbal secara bertahap.
Sebelum dipasarkan lebih luas, produk tersebut telah melalui sejumlah persiapan. Teh Ibu Iyus telah memiliki sertifikat halal dan perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT).
Perjalanan usaha tersebut kemudian membawa Ibu Iyus bergabung menjadi mitra Amartha. Dukungan pembiayaan dan kesempatan mengikuti berbagai kegiatan melalui Amartha membuka akses bagi Ibu Iyus dan rekan-rekannya untuk mengembangkan usaha sekaligus memperkenalkan produk kepada masyarakat yang lebih luas.
Kesempatan itu salah satunya dirasakan ketika Ibu Iyus membawa Teh Ibu Iyus dari Cirebon ke Jakarta untuk diperkenalkan dalam Pasar Amartha pada rangkaian Amartha 10X Run 2026 di kawasan Gelora Bung Karno, Ahad (7/9/2026).
Selama ini, pemasaran produk tersebut masih lebih banyak dilakukan secara langsung di lingkungan sekitar tempat tinggalnya. Teh Ibu Iyus juga belum dipasarkan secara daring.
Ibu Iyus mengaku sengaja belum membawa produknya ke platform penjualan daring. Salah satu pertimbangannya adalah kemampuan produksi yang masih terbatas dan kekhawatiran tidak mampu memenuhi pesanan apabila permintaan meningkat secara tiba-tiba.
Selain itu, usaha tersebut hingga kini masih dikelola secara rumahan bersama rekan-rekannya. Belum adanya tenaga khusus yang menangani administrasi dan penjualan juga menjadi pertimbangan untuk belum memperluas pemasaran secara daring.
“Kalau nanti pesanan banyak, kami takut tidak bisa menangani. Karena sampai sekarang juga masih dikelola bersama-sama dan belum ada admin khusus,” kata Ibu Iyus.
Meski belum dipasarkan secara daring, kesempatan membawa produknya ke Jakarta menjadi pengalaman tersendiri. Selama ini, kata Ibu Iyus, Teh Ibu Iyus lebih banyak dijual di sekitar tempat tinggalnya.
“Biasanya saya menjual produk ini di sekitar rumah saja. Senang sekali hari ini bisa datang ke Jakarta dan bertemu banyak orang. Semoga usaha saya bisa semakin dikenal sehingga bisa terus berkembang,” kata Ibu Iyus.
Dalam mengembangkan usaha, Ibu Iyus dan rekan-rekannya juga mendapatkan pendampingan dari pemerintah desa dan Pemerintah Kabupaten Cirebon. Pendampingan tersebut antara lain membantu pengembangan kemasan produk.
Menurut Ibu Iyus, proses pengembangan usaha masih terus berjalan. Bersama rekan-rekannya, ia terus menerima berbagai masukan untuk memperbaiki produk, mulai dari proses produksi hingga kemasan.
Founder dan CEO Amartha Financial Andi Taufan mengatakan, keberanian untuk terus bergerak dan membuka peluang baru menjadi bagian dari perjalanan banyak pelaku UMKM perempuan.
“Melalui Amartha 10X Run, kami ingin mengajak lebih banyak orang merasakan semangat #WeGoBeyond. Bagi kami, melampaui batas bukan hanya tentang berlari lebih cepat atau lebih jauh, tetapi tentang keberanian untuk terus bergerak dan membuka peluang baru,” ujar Andi.
Menurut Andi, semangat tersebut juga tercermin dalam perjalanan Amartha selama 16 tahun bersama lebih dari 4 juta UMKM yang dilayani di lebih dari 50.000 perdesaan di Indonesia.
“Semangat ini sangat dekat dengan perjalanan Amartha selama 16 tahun, bersama lebih dari 4 juta UMKM yang kami layani di lebih dari 50.000 perdesaan di Indonesia. Setiap hari, para perempuan pelaku UMKM ini terus melangkah untuk mengembangkan usaha dan membangun kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya,” kata Andi.