REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Organisasi penelitian kolaboratif, Climate Impact Lab (CIL), memprediksi Super El Nino atau El Nino sangat kuat yang dimulai tahun ini akan memicu 451 ribu kematian akibat paparan panas ekstrem di seluruh dunia. Indonesia menjadi negara kedua dengan tingkat kematian tertinggi.
Proyeksi tersebut tidak mencakup seluruh dampak El Nino. Perubahan pola cuaca seperti kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta banjir dapat menimbulkan korban jiwa lebih tinggi. CIL memperkirakan 451 ribu kematian selama sembilan bulan pertama El Nino kuat dari Juni 2026 sampai Februari 2027.
Angka ini sekitar 65 kali lipat dari 6.800 orang yang tewas dan hilang dalam banjir bandang di Nepal bulan lalu. Kematian terkait panas El Niño akan terkonsentrasi di negara-negara berkembang di dunia belahan selatan atau Global South.
Nigeria diperkirakan akan menjadi negara dengan angka kematian tertinggi dengan 31.400 kematian. Disusul Indonesia dengan 19.300 kematian, lalu Sudan dengan 17.500 kematian, India 15.800 kematian, Brasil dengan 13.300 kematian, dan Republik Demokratik Kongo dengan 10 ribu kematian.
“Kami sudah lama dapat memprediksi dampak kenaikan suhu pada panen, dan kini kami dapat memprediksi dampak terburuk dari kenaikan suhu, yakni kematian. Hasilnya, kini kami dapat mengestimasi 451 ribu orang mungkin akan tewas dalam beberapa bulan ke depan karena El Nino,” kata pendiri Climate Impact Lab dan Profesor Kehormatan bidang Ekonomi University of Chicago, Michael Greenstone, dalam pernyataannya, Rabu (23/9/2026) lalu.
Greenstone mengatakan korban dari dampak kenaikan suhu dapat terjadi pada siapa saja, baik orang lanjut usia, anak-anak, maupun orang dewasa.
Selama enam bulan ke depan, CIL memproyeksikan 66.800 kematian tambahan di seluruh kawasan Sahel di Afrika. Hampir setengah total kematian terjadi di Nigeria. Sementara itu, selain di Indonesia, total kematian di Asia Tenggara akan mencapai 19.400 kematian.
CIL menyatakan respons darurat dan upaya meningkatkan ketahanan masyarakat perlu diarahkan ke wilayah yang diproyeksikan mengalami dampak terbesar. Dalam laporannya, CIL mengatakan langkah-langkah adaptasi yang tepat berpotensi mencegah puluhan ribu kematian.
Sejumlah tindakan yang dinilai dapat membantu masyarakat menghadapi suhu ekstrem antara lain sistem peringatan panas, layanan kesehatan bagi kelompok rentan, pusat pendinginan atau cooling center, stasiun air minum dan hidrasi, perlindungan bagi pekerja luar ruang, serta peningkatan kapasitas sistem kesehatan.
CIL juga memiliki Adaptation Inventory, basis data yang menghimpun bukti penelitian mengenai berbagai langkah adaptasi yang telah terbukti dapat menyelamatkan nyawa berdasarkan penelitian yang telah melalui proses peer review.
Menurut laporan tersebut, beberapa langkah adaptasi telah mulai diterapkan untuk melindungi masyarakat dari El Nino yang diperkirakan ekstrem. Namun, proyeksi terbaru menunjukkan perlunya menentukan wilayah prioritas secara lebih tepat.
Dampak kematian akibat suhu ekstrem, kata CIL, perlu menjadi bagian penting dalam persiapan menghadapi El Nino, bersamaan dengan berbagai upaya yang selama ini dilakukan untuk mengurangi risiko terhadap ketahanan pangan.
Para peneliti CIL juga menilai fenomena El Nino tahun ini dapat menjadi gambaran mengenai kondisi iklim beberapa dekade mendatang. Suhu yang saat ini dianggap tidak biasa berpotensi menjadi kondisi normal dalam beberapa puluh tahun jika pemanasan global terus berlanjut tanpa peningkatan investasi adaptasi.
“El Nino tahun ini merupakan gambaran dari masa depan kita,” kata salah satu penulis laporan, yang juga Faculty Head of Research Climate Impact Lab dan asisten profesor di University of California, Berkeley, Tamma Carleton.
Carleton mengatakan peningkatan respons darurat dan penargetan upaya adaptasi secara lebih tepat dapat menyelamatkan banyak nyawa dalam jangka pendek. Namun, menurut dia, masyarakat tidak dapat terus-menerus berada dalam kondisi darurat ketika suhu ekstrem menjadi normal pada masa mendatang.
“Kita perlu memobilisasi sumber daya sekarang untuk merancang, menerapkan, dan mengevaluasi perangkat persiapan serta perencanaan yang dapat menyelamatkan nyawa pada tahun-tahun mendatang,” ujarnya.