REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional turun 588 titik menjadi 344 titik hingga Rabu (23/9/2026). Meski demikian, pemerintah tetap memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama melalui operasi darat di Kalimantan Selatan dan wilayah prioritas lainnya.
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, sebanyak 344 hotspot high confidence terdeteksi hingga Rabu (23/9) pukul 21.05 WIB. Jumlah tersebut turun dari 932 titik pada Selasa (22/9).
Kemenhut dalam siaran pers pada Kamis (24/9/2026) menyatakan, pada enam provinsi prioritas, hotspot high confidence tercatat 156 titik di Kalimantan Tengah, 33 titik di Kalimantan Barat, 11 titik di Kalimantan Selatan, 4 titik di Sumatera Selatan, 2 titik di Jambi, dan nihil di Riau.
Secara keseluruhan, jumlah hotspot di enam provinsi prioritas turun dari 778 menjadi 206 titik dalam satu hari. Kalimantan Tengah mencatat penurunan terbesar, tetapi masih menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi di antara enam wilayah tersebut.
Kementerian Kehutanan mengingatkan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan kejadian kebakaran maupun luas area yang terbakar. Setiap indikasi tetap perlu diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan.
Setelah memantau penanganan karhutla di Kalimantan Tengah, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto melanjutkan pemantauan ke Kalimantan Selatan pada Rabu (23/9).
Keduanya meninjau proses pemadaman di kawasan gambut sekitar RSJ Sambang Lihum, Kabupaten Banjar, sekaligus mengikuti evaluasi penanganan karhutla bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, dan unsur terkait.
Evaluasi tersebut diarahkan pada penguatan operasi darat, penyamaan data lapangan, serta penempatan personel dan sumber daya di lokasi yang masih membutuhkan penanganan. Pemerintah Kabupaten Banjar juga menyiapkan tambahan personel untuk memperkuat operasi di wilayah rawan.
Operasi darat menjadi penting dalam penanganan kebakaran gambut karena bara dapat bertahan di bawah permukaan meski api tidak lagi terlihat. Karena itu, pembasahan dan pendinginan terus dilakukan untuk mencegah munculnya kembali api.
Selain operasi darat, pemerintah mengerahkan 61 unit armada udara untuk mendukung penanganan karhutla. Sebanyak 17 unit digunakan untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sedangkan 44 unit digunakan untuk water bombing.
Pengoperasian armada udara mempertimbangkan perkembangan titik api, potensi awan, arah angin, kondisi asap, jarak pandang, serta keselamatan penerbangan.
Di darat, Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan pihak terkait melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, dan pendinginan.
Sementara itu, kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan masih perlu diwaspadai. Pantauan PM2,5 menunjukkan sebagian besar wilayah berada pada kategori baik hingga sedang, tetapi sejumlah area masih berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan beberapa lokasi masuk kategori berbahaya.
Pantauan BMKG Aviation pada dini hari Kamis (24/9) menunjukkan asap masih memengaruhi jarak pandang di sejumlah wilayah prioritas. Jarak pandang di Palangka Raya dan Pontianak sekitar 1,5 kilometer, Banjarmasin sekitar 3 kilometer, Jambi dan Palembang sekitar 5 kilometer, serta Pekanbaru sekitar 6 kilometer dengan kondisi hujan ringan.
Penurunan jumlah hotspot belum berarti seluruh kebakaran telah padam atau kualitas udara langsung pulih. Asap yang sudah terbentuk masih dapat berpindah mengikuti kondisi angin dan atmosfer, sementara bara pada lahan gambut dapat tetap aktif di bawah permukaan.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat di wilayah terdampak mengikuti informasi kondisi udara dan arahan pemerintah daerah. Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar.
Masyarakat dan pelaku usaha juga diingatkan tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Jika menemukan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.