Jumat 25 Sep 2026 15:01 WIB

Pangkas Emisi, 27 Bus Elektrik akan Jadi Armada Utama Koridor 1 Trans Semarang

Elektrifikasi armada dapat menekan emisi dan biaya operasional.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Satria K Yudha
Kegiatan peresmian 27 bus listrik Trans Semarang di Balai Kota Semarang, Rabu (23/9/2026). Bus listrik tersebut akan dioperasikan secara bertahap di Koridor 1 rute Terminal Mangkang-Terminal Penggaron.
Foto: Istimewa
Kegiatan peresmian 27 bus listrik Trans Semarang di Balai Kota Semarang, Rabu (23/9/2026). Bus listrik tersebut akan dioperasikan secara bertahap di Koridor 1 rute Terminal Mangkang-Terminal Penggaron.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang mulai mengoperasikan 27 bus listrik sebagai armada Trans Semarang, dengan Koridor 1 rute Terminal Mangkang-Terminal Penggaron menjadi jalur pertama yang menggunakan bus listrik. Pengoperasian dilakukan bertahap mulai dua unit dan ditargetkan seluruh armada Koridor 1 beralih ke bus listrik pada pertengahan November 2026.

Kepala BLU UPTD Trans Semarang Haris Setyo Yunanto mengatakan, 27 bus listrik tersebut diluncurkan di Balai Kota Semarang pada Rabu (23/9/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Perhubungan Nasional. Peluncuran dihadiri Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti.

Baca Juga

Haris mengatakan, pembahasan peremajaan armada Trans Semarang telah dilakukan sejak dua tahun lalu. Dalam perkembangannya, Pemkot Semarang memutuskan menggunakan bus listrik untuk menekan emisi gas buang.

“Seiring berjalannya waktu, kemudian semangat dari pemerintah pusat itu kan mengurangi emisi gas buang, akhirnya kita Kota Semarang sebagai smart city dan sebagainya, ya kita akhirnya mengikuti. Setelah itu muncul gagasan peremajaan ke bus elektrik. Jadi faktor utamanya mengurangi gas buang,” ungkap Haris ketika diwawancarai, Kamis (24/9/2026).

Proses perencanaan hingga pengadaan bus listrik berlangsung selama dua tahun. Menurut Haris, Koridor 1 diprioritaskan karena merupakan koridor utama Trans Semarang sejak awal beroperasi dan armadanya telah memasuki masa peremajaan.

“Yang pertama tentu karena ini koridor utamanya Trans Semarang sejak berdiri. Kedua, secara unit armada, ini juga sudah waktunya peremajaan,” ucapnya.

Selain itu, tingkat okupansi penumpang Koridor 1 merupakan yang tertinggi dibandingkan tujuh koridor Trans Semarang lainnya. Koridor tersebut juga menjadi penyumbang pendapatan terbesar bagi Trans Semarang, salah satunya dari aktivitas periklanan.

“Dan jujur, Koridor 1 ini juga merupakan penyumbang pendapatan terbesar bagi kami. Karena pasti orang akan jual reklame itu beli rutenya, bukan bentuk bus atau apanya,” kata Haris.

Haris menjelaskan, pengadaan armada eksisting Trans Semarang dilakukan sepenuhnya oleh Pemkot Semarang, sedangkan operasionalnya menggunakan pihak ketiga. Untuk peremajaan armada Koridor 1, pengadaan dan operasional diserahkan kepada pihak ketiga dengan skema pemerintah membeli jasa layanan.

“Untuk peremajaan ini, semua full pihak ketiga. Jadi pemerintah hanya beli jasa saja kepada pihak ketiga,” ungkapnya.

Biaya pengadaan 27 bus listrik tersebut ditanggung operator Koridor 1, PT Sembilan Sembilan Cahaya. Pengoperasiannya dilakukan secara bertahap, dimulai dengan dua unit.

“Jadi ini mulai besok dua unit dulu yang kemarin di-launching Bu Wali Kota. Nanti selama Oktober sampai pertengahan November, setiap minggunya akan tambah minimal tiga unit,” ucap Haris.

Dengan tahapan tersebut, seluruh armada Koridor 1 Trans Semarang ditargetkan beralih sepenuhnya menggunakan bus listrik.

Bus listrik Trans Semarang diproduksi melalui kolaborasi PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) dan PT Laksana Bus Manufaktur (Laksana). Bus memiliki panjang 12 meter dan menggunakan tipe low deck.

Haris mengatakan, tipe tersebut dipilih karena karakteristik Koridor 1 yang relatif landai sekaligus untuk memudahkan akses penumpang, termasuk lansia.

“Rata-rata penumpang kita perharinya itu kan di 35 ribu. Sekitar 7.000-an itu penumpangnya lansia atau orang tua veteran. Jadi dengan maksud ketinggian kita batasi, ya supaya lebih memudahkan kepada beliau-beliunya untuk bisa naik,” ucapnya.

“Harapan kami, dengan ketinggian yang terjangkau itu juga mempercepat proses mobilisasi penumpangnya,” tambah Haris.

Setiap bus listrik memiliki kapasitas 48 penumpang. Untuk tipe big bus 12 meter tersebut, jarak tempuh dalam sekali pengisian daya mencapai sekitar 300 kilometer.

“Untuk tipe big bus 12 meter ini khususnya, sekali cas itu kurang lebih di 300 kilometer. Jadi insya Allah dalam satu hari layanan tidak akan melakukan pengecasan,” ujarnya.

Selain menekan emisi, penggunaan bus listrik diperkirakan dapat mengurangi biaya operasional. Haris mengatakan, berdasarkan perhitungan internal, efisiensi biaya operasional dapat mencapai 19 persen. “Kemarin kalau sesuai penghitungan kami bisa lebih efisien 19 persen,” kata dia.

Saat ini, Trans Semarang memiliki 283 unit bus, termasuk 27 bus listrik. Haris mengatakan, Pemkot Semarang ke depan kemungkinan mengganti seluruh armada konvensional dengan bus listrik.

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, transformasi transportasi publik perlu didukung penerapan teknologi yang lebih berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

“Kami berharap transformasi ini memberikan pilihan mobilitas yang lebih baik bagi masyarakat sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” ucapnya.

Direktur Utama VKTR Teknologi Mobilitas Tbk Ardiansyah Bakrie atau Ardi Bakrie mengapresiasi langkah Pemkot Semarang dalam melakukan elektrifikasi transportasi publik.

Ardi mengatakan, pengoperasian bus listrik Trans Semarang merupakan bagian dari dukungan VKTR terhadap pemerintah daerah dalam menghadirkan transportasi publik yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekaligus mempercepat elektrifikasi kendaraan komersial di Indonesia.

“Bagi VKTR, kehadiran bus listrik di Semarang bukan sekadar mengganti kendaraan konvensional menjadi listrik, tetapi bagian dari upaya menjawab kebutuhan masyarakat akan transportasi publik yang lebih nyaman, bersih, dan inklusif,” ucapnya.

Menurut Ardi, pengadaan dan pengoperasian bus listrik di Semarang juga mendukung perkembangan industri kendaraan listrik di Jawa Tengah. Seluruh unit bus listrik Trans Semarang merupakan produk ekosistem manufaktur kendaraan listrik yang melibatkan pelaku industri di Jawa Tengah, dengan VKTR menjalankan proses perakitan kendaraan dan Laksana sebagai mitra karoseri.

 

 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi