Kamis 01 Oct 2026 06:00 WIB

Pupuk Kaltim Olah Limbah Pertanian dan Peternakan Jadi Biogas

Biogas dimanfaatkan untuk pertanian, UMKM, dan rumah tangga.

Rep: M. Nursyamsyi/ Red: Satria K Yudha
Pupuk Kaltim mengembangkan PKT BISA berbasis integrasi pertanian dan energi di Magetan.
Foto: Pupuk Kaltim
Pupuk Kaltim mengembangkan PKT BISA berbasis integrasi pertanian dan energi di Magetan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Limbah pertanian dan peternakan di Desa Kepuhrejo, Kecamatan Takeran, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, dimanfaatkan menjadi biogas untuk mendukung kegiatan pertanian, UMKM, dan kebutuhan energi rumah tangga. Pengolahan tersebut dikembangkan Pupuk Kaltim melalui program Pengembangan Kawasan Terpadu Berbasis Integrasi Sistem Agroenergi (PKT BISA).

Direktur Utama Pupuk Kaltim Rafli Yandra mengatakan, PKT BISA dikembangkan dengan menghubungkan potensi pertanian, peternakan, perikanan, pengolahan kompos, hingga usaha masyarakat dalam satu ekosistem.

Baca Juga

“Pupuk Kaltim mengembangkan PKT BISA dengan pendekatan ekonomi sirkular untuk memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat,” ujar Rafli dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Program yang dikembangkan sejak 2021 tersebut memanfaatkan limbah peternakan dan perikanan sebagai bahan baku pengolahan energi dan kompos. Sementara itu, hasil pertanian dan perikanan dikembangkan menjadi produk olahan oleh kelompok usaha masyarakat.

Salah satu pengembangan terbaru dilakukan melalui integrasi sistem agroenergi dengan mengolah limbah pertanian dan peternakan menjadi biogas. Energi yang dihasilkan kemudian digunakan untuk proses pengeringan hasil pertanian, kegiatan produktif UMKM, serta kebutuhan energi rumah tangga masyarakat rentan di sekitar kawasan.

“Prinsip yang kami dorong bagaimana potensi yang ada di desa dapat saling terhubung. Limbah dari satu aktivitas dapat menjadi input bagi aktivitas lainnya, sehingga tercipta siklus yang memberi manfaat kembali bagi masyarakat,” lanjut Rafli.

Pemanfaatan biogas juga ditujukan untuk mengurangi potensi pencemaran dan emisi dari limbah organik yang sebelumnya belum dikelola secara optimal. Dengan pola tersebut, limbah tidak hanya ditangani sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk kegiatan ekonomi masyarakat.

Pada sektor pertanian, PKT BISA disebut telah membantu petani di Babadan meningkatkan intensitas panen hingga empat kali dalam setahun. Pendampingan kepada petani juga dilakukan melalui program Agrosolution dengan total lahan yang dikelola mencapai 19,1 hektare.

“Program juga mengintegrasikan kelompok pertanian, peternakan, perikanan, kompos, serta UMKM dan kelompok perempuan dalam satu ekosistem pemberdayaan,” kata Rafli.

Pada sektor peternakan, pendampingan diarahkan pada peningkatan kualitas pakan dan pengelolaan usaha. Sementara hasil budidaya perikanan dikembangkan menjadi produk olahan untuk meningkatkan nilai tambah bagi kelompok usaha.

Program PKT BISA di Desa Kepuhrejo memperoleh penghargaan CSR & PDB Awards 2026 dengan predikat Gold dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT). Pupuk Kaltim selanjutnya memproyeksikan kawasan tersebut berkembang menjadi pusat agroedukasi terpadu sekaligus memperluas jaringan pemasaran produk masyarakat.

Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Ahmad Riza Patria mengatakan, keterlibatan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial dapat melengkapi pembangunan desa yang dilakukan pemerintah.

“Kami mengapresiasi perusahaan-perusahaan yang telah memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan desa. Kami harap kolaborasi seperti ini terus diperkuat, karena pembangunan desa membutuhkan sinergi seluruh pihak. Kalau desanya maju, Indonesianya maju,” kata Riza.

Berita Lainnya

Rekomendasi