REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono, menegaskan pemilahan sampah sangat penting, mengingat timbulan sampah yang menumpuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) berisiko mengalami kebakaran. Ia mencatat saat ini sudah 43 TPA yang terbakar karena tidak adanya pemilihan sampah yang tepat.
“Jadi sampah organik menumpuk disana, apalagi tercampur dengan bahan plastik, ditambah lagi dengan adanya El Niño, itu semua meningkatkan potensi TPA terbakar, kalau di TPA hanya sampah residu, maka kemungkinan kebakaran akan sangat kecil,” kata Diaz di acara “Science Day 2026” yang diselenggarakan Universitas Ibn Khaldun Bogor pada Rabu (30/9/2026).
Dikutip dari pernyataan KLH, Kamis (1/10/2026), dalam kesempatan itu, Diaz menegaskan pentingnya gerakan berbasis komunitas dalam menangani permasalahan sampah khususnya untuk memulai pemilahan sampah dari hulu dan sumbernya. Menurut Diaz tanpa gerakan dari komunitas, permasalahan sampah tidak akan selesai.
Selain untuk mencegah kebakaran di TPA, pemilahan sampah juga sangat diperlukan untuk memastikan pengelolaan sampah di hilir dapat berjalan dengan optimal.
“Jadi cara apapun yang mau kita lakukan, tanpa adanya pemilahan di hulu, itu tidak mungkin berjalan, kita bisa memproduksi inovasi dan teknologi berkelanjutan apapun, tapi kalau dari awal tidak ada pemilahan, dari rumah tangga, industri horeka (hotel, restoran dan kafe), penemuan-penemuan tersebut tidak ada gunanya,” kata Diaz.
Diaz menyoroti teknologi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) yang saat ini sedang didorong pemerintah Presiden Prabowo. Diaz menekankan pemilahan sampah menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan ketersediaan pasokan sampah dengan kadar air yang tidak terlalu tinggi.
“PSEL tanpa ada pemilahan, sampahnya akan menjadi sangat basah, tercampur, kadar airnya akan tinggi sekali yakni 60-70 persen, sedangkan PSEL yang efektif memerlukan sampah yang kadar airnya dibawah 30 persen,” pungkas Diaz.