Jumat 02 Oct 2026 17:14 WIB

Siswa Kembangkan Solusi Air Bersih hingga Energi Berkelanjutan

Penggunaan air secara bijak dan keberlanjutan perlu ditanamkan sejak dini

Young Voices for a Sustainable Future – Innovation Challenge for a Just Transition yang digelar BASF Indonesia bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI). Sebanyak 50 siswa yang tergabung dalam 10 tim finalis mempresentasikan solusi mereka di kantor BASF Indonesia, Jakarta, Kamis (1/10/2026).
Foto: BASF Indonesia
Young Voices for a Sustainable Future – Innovation Challenge for a Just Transition yang digelar BASF Indonesia bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI). Sebanyak 50 siswa yang tergabung dalam 10 tim finalis mempresentasikan solusi mereka di kantor BASF Indonesia, Jakarta, Kamis (1/10/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Keterbatasan air bersih, persoalan limbah, hingga kebutuhan energi alternatif mendorong pelajar di Jabodetabek mengembangkan berbagai inovasi untuk menjawab persoalan lingkungan di sekitar mereka.

Hal itu terlihat dalam National Innovation Challenge, yang menjadi puncak program Young Voices for a Sustainable Future – Innovation Challenge for a Just Transition yang digelar BASF Indonesia bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI). Sebanyak 50 siswa yang tergabung dalam 10 tim finalis mempresentasikan solusi mereka di kantor BASF Indonesia, Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Program tersebut telah melibatkan 100 siswa dari 20 tim dan 16 SMA di wilayah Jabodetabek sejak April 2026. Para peserta mengembangkan gagasan berdasarkan persoalan yang mereka temukan di sekolah maupun lingkungan masyarakat, mulai dari limbah makanan, tekstil dan organik, pencemaran lingkungan, keterbatasan akses air bersih, hingga kebutuhan sumber energi alternatif.

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah O2H: Atmospheric Water Harvesting System yang dikembangkan Tim Gen V dari SMAN 21 Jakarta. Inovasi tersebut mengantarkan tim tersebut menjadi pemenang National Innovation Challenge.

Perwakilan Tim Gen V, Muhammad Rizqi Sugianto, mengatakan inovasi itu berangkat dari persoalan keterbatasan akses air bersih yang dialami sejumlah rumah tangga dan komunitas, terutama saat musim kemarau. Perangkat yang dikembangkan dirancang untuk mengubah kelembapan udara menjadi air bersih melalui proses penyaringan dan sterilisasi.

Selain persoalan air bersih, para finalis mengembangkan inovasi dalam enam tema, yakni aksi iklim, air dan sanitasi, konsumsi bertanggung jawab, ekonomi sirkular dan pengurangan limbah, energi berkelanjutan, serta solusi digital untuk keberlanjutan.

Sejumlah gagasan yang dipresentasikan mencakup pemanfaatan material sisa menjadi produk bernilai tambah, teknologi pengelolaan air dan energi, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), sensor, aplikasi digital, dan analisis data untuk mendorong perilaku yang lebih ramah lingkungan.

Kasubtim Peserta Didik, Direktorat SMA, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Rurry Fatchurrachman, mengatakan program tersebut memberikan ruang bagi siswa untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi nyata.

Menurut dia, proses mengenali persoalan dan mengembangkan solusi dapat mengasah kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi siswa.

Presiden Direktur BASF Indonesia Dr. Christofer Arisandy mengatakan transisi menuju perekonomian berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan kemajuan teknologi. Menurut dia, diperlukan generasi muda yang mampu memahami persoalan di sekitarnya, melihat peluang, menciptakan nilai tambah, dan mengembangkan solusi yang relevan bagi masyarakat.

“Melalui program Young Voices for a Sustainable Future, para siswa dipacu untuk menunjukkan bahwa inovasi dapat berawal dari permasalahan sehari-hari dan berkembang menjadi gagasan yang memberikan dampak nyata melalui riset, kreativitas, dan kolaborasi,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Prestasi Junior Indonesia Utami Anita Herawati menambahkan, generasi muda perlu mendapatkan pengalaman langsung dalam memahami persoalan lingkungan dan mencari solusinya.

“Generasi muda membutuhkan lebih dari sekadar informasi tentang masalah lingkungan. Mereka perlu mendapatkan kesempatan untuk mencari tahu penyebab masalah, mencoba berbagai gagasan, bekerja sama, menerima masukan, dan memperbaiki solusi yang mereka kembangkan,” ujarnya.

Program tersebut menggunakan pendekatan design thinking dan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics). Peserta melakukan pengamatan terhadap lingkungan, riset, penyusunan konsep, hingga pengembangan proposal inovasi dengan pendampingan mentor BASF.

Dalam proses final, setiap tim mempresentasikan persoalan yang hendak diselesaikan, konsep solusi, manfaat, target pengguna, serta rencana pengembangan prototipe di hadapan dewan juri dari unsur dunia usaha, pendidikan, dan praktisi keberlanjutan.

Dengan pendekatan tersebut, program tidak hanya menghasilkan gagasan inovasi, tetapi juga mendorong siswa mengembangkan kemampuan riset, komunikasi, kerja sama tim, pemecahan masalah, dan berpikir kritis.

Berita Lainnya

Rekomendasi