Jumat 02 Oct 2026 20:22 WIB

Anak Muda Olah Purun Jadi Produk Bernilai, Pendapatan Perajin Naik hingga 150 Persen

Anak muda Indonesia olah rumput purun dari lahan basah jadi produk bernilai tambah

Gaia Weave, wirausaha sosial yang mengolah rumput purun dari lahan basah Kalimantan Selatan menjadi berbagai produk bernilai tambah.
Foto: Gaia Weave
Gaia Weave, wirausaha sosial yang mengolah rumput purun dari lahan basah Kalimantan Selatan menjadi berbagai produk bernilai tambah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemanfaatan material lokal dapat menjadi salah satu cara untuk mempertemukan kepentingan pelestarian lingkungan dengan peningkatan ekonomi masyarakat. Hal itu dikembangkan melalui Gaia Weave, wirausaha sosial yang mengolah rumput purun dari lahan basah Kalimantan Selatan menjadi berbagai produk bernilai tambah.

Gaia Weave dikembangkan Alexandra Christy Untono, siswi kelas 12 ACS Jakarta, sejak 2025. Inisiatif tersebut berangkat dari persoalan yang ditemukan Alexandra ketika mengunjungi Kalimantan Selatan, yakni keterampilan perajin purun yang belum sepenuhnya didukung akses pasar yang konsisten dan bernilai tambah.

Alexandra mengatakan, purun memiliki keterkaitan erat dengan ekosistem lahan basah karena tanaman tersebut tumbuh secara alami di lingkungan basah, termasuk kawasan gambut dan rawa.

“Purun tumbuh subur di lingkungan yang basah. Dengan menciptakan nilai ekonomi dari purun, kami ingin membantu membangun insentif agar masyarakat tetap melihat nilai dari lanskap tempat purun tumbuh,” ujar Alexandra.

Menurut dia, pemanfaatan purun juga dapat menjadi titik temu antara kepentingan ekonomi masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. Tanaman tersebut dapat dipanen dalam siklus tiga hingga enam bulan sehingga berpotensi menjadi material yang memiliki nilai ekonomi tanpa menghilangkan keterkaitannya dengan lanskap lahan basah.

Gaia Weave membangun rantai usaha dari hulu hingga hilir. Purun diproses dan dianyam oleh perajin lokal, kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk, seperti tech organizer, document pouch, tas, aksesori, dan kebutuhan rumah tangga.

Saat ini, Gaia Weave telah bermitra dengan 126 perajin di 15 desa di Kalimantan Selatan dengan kapasitas produksi sekitar 6.000 unit per bulan. Produk tersebut telah tersedia di lebih dari 100 gerai ritel dan mulai digunakan pelanggan korporasi untuk kebutuhan merchandise, acara, dan hadiah karyawan.

Dampak ekonomi menjadi salah satu hasil yang terukur. Kemitraan tersebut disebut meningkatkan pendapatan perajin sekitar 100 hingga 150 persen, dari sebelumnya sekitar Rp1 juta-Rp1,5 juta menjadi Rp2,7 juta-Rp3 juta per bulan. Bagi perajin yang juga bekerja sebagai petani, kegiatan menganyam dapat menjadi sumber pendapatan tambahan yang dikerjakan dari rumah.

Salah satu perajin, Ibu Idang, misalnya, sebelumnya mengandalkan pekerjaan tani musiman dengan penghasilan sekitar Rp40 ribu-Rp50 ribu per hari. Setelah bergabung dengan Gaia Weave, dia menganyam purun seusai bekerja di ladang dan memperoleh tambahan penghasilan sekitar Rp80 ribu-Rp100 ribu per hari.

“Setelah pulang dari sawah, saya biasanya melanjutkan dengan menganyam di rumah. Sekarang keterampilan yang sudah kami miliki bisa menjadi tambahan penghasilan, dan hasil anyaman kami digunakan menjadi produk yang dipakai lebih banyak orang,” ujar Ibu Idang.

Alexandra menilai pengembangan ekonomi sirkular tidak hanya berkaitan dengan bagaimana material digunakan kembali atau dapat terurai. Menurut dia, aspek manfaat bagi masyarakat yang berada dalam rantai pasok juga perlu menjadi perhatian.

“Ekonomi sirkular bukan hanya tentang material yang dapat digunakan kembali atau terurai. Yang tidak kalah penting adalah memastikan orang-orang dalam rantai pasok mendapatkan manfaat yang adil,” katanya.

Pengembangan Gaia Weave juga menjadi bagian dari pengalaman Alexandra di bidang keberlanjutan dan kewirausahaan. Sebelumnya, dia pernah magang di Birufinery dengan fokus pada pemetaan lokasi rumput laut di Nusa Tenggara Timur serta mendirikan EcoFunCycle, jaringan daur ulang sampah yang telah mengolah lima ton material dari tiga sekolah.

Ke depan, Gaia Weave menargetkan perluasan jaringan hingga lebih dari 1.000 perajin pada 2030. Pengembangan tersebut akan disertai kemitraan business to business (B2B) dengan sektor perhotelan premium internasional dan perluasan pasar ekspor.

Gaia Weave juga berencana mengembangkan sistem ketertelusuran berbasis kode QR sehingga konsumen dapat mengetahui perjalanan produk, termasuk informasi mengenai dampaknya terhadap perajin dan lanskap asal material.

“Gaia Weave ingin membuktikan bahwa produk sehari-hari dapat menjadi bagian dari solusi. Ketika material, desain, dan rantai pasok dirancang dengan tepat, sebuah produk dapat menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus mendorong kita untuk lebih menghargai alam tempat material tersebut berasal,” ujar Alexandra.

Berita Lainnya

Rekomendasi