Rabu 20 Sep 2023 20:31 WIB

3 Alasan ESG Penting Bagi Organisasi Nirlaba dalam Membentuk Masa Depan Berkelanjutan

ESG menjadi alat ampuh membentuk lintasan organisasi nirlaba dan dampak kepada dunia.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Prinsip ESG bisa menjadi alat ampuh dalam membentuk lintasan organisasi nirlaba dan dampaknya terhadap dunia.
Foto: www.pixabay.com
Prinsip ESG bisa menjadi alat ampuh dalam membentuk lintasan organisasi nirlaba dan dampaknya terhadap dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (LST/ESG) sangat penting untuk menciptakan masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan. ESG bukan hanya sebuah kata kunci dalam dunia bisnis, melainkan juga alat ampuh yang dapat membentuk lintasan organisasi nirlaba dan dampaknya terhadap dunia.

Organisasi yang menerapkan prinsip-prinsip ESG memosisikan diri mereka sebagai katalisator perubahan positif, menetapkan standar baru untuk operasi yang bertanggung jawab dan berdampak. Selain itu, mengintegrasikan prinsip-prinsip ESG dapat meningkatkan reputasi dan ketahanan organisasi di pasar yang terus berkembang.

Baca Juga

Dilansir Forbes, Rabu (20/9/2023), berikut tiga kuat mengapa ESG penting bagi organisasi nirlaba, dan bagaimana LST dapat membentuk masa depan yang berkelanjutan.

 

1. Menyelaraskan nilai dan dampak

Sama seperti bisnis, organisasi nirlaba dapat menjadi agen perubahan melalui keputusan investasi. Organisasi nirlaba yang lebih kecil dapat menyelaraskan keputusan keuangan dengan memulai langkah-langkah tambahan seperti membuka rekening di bank komunitas yang berfokus pada bisnis milik perempuan dan minoritas, atau berinvestasi dalam obligasi hijau yang diterbitkan oleh organisasi yang mendanai proyek-proyek ramah lingkungan.

Lembaga nirlaba yang lebih besar, dapat bermitra dengan perusahaan investasi ESG khusus atau secara langsung berinvestasi di perusahaan yang menghasilkan hasil sosial dan lingkungan yang positif dan terukur di samping keuntungan finansial. Misalnya pengembangan perumahan yang terjangkau dan inisiatif energi terbarukan.

Meskipun sudah ada keselarasan yang jelas, banyak organisasi nirlaba yang belum sepenuhnya merangkul investasi ESG. Dengan memasukkan kriteria ESG, organisasi nirlaba dapat memastikan bahwa keputusan keuangan mereka mencerminkan nilai-nilai mereka sekaligus mendukung bisnis yang memprioritaskan keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.

 

2. Meningkatkan transparansi dan menarik pendanaan perusahaan

Di era di mana transparansi menjadi sangat penting, kerangka kerja ESG berfungsi sebagai mercusuar kepercayaan dan keorisinilan. Pemantauan dan pelaporan metrik ESG kepada para pemangku kepentingan menunjukkan komitmen terhadap transparansi, membedakan sebuah organisasi dan menarik para penyandang dana korporat yang berpikiran sama. Lanskap bisnis global mengakui pentingnya ESG sebagai kriteria kemitraan dan investasi.

Menurut Deloitte, prospektus dana semakin menunjukkan bahwa ESG telah menjadi arus utama dalam lanskap investasi. Faktanya, setengah dari seluruh aset global yang dikelola secara profesional diperkirakan akan menjadi aset yang diamanatkan oleh ESG pada tahun 2024. Dengan merangkul ESG, organisasi nirlaba dapat membangun reputasi sebagai organisasi yang kredibel dan bertanggung jawab, sehingga meningkatkan daya tarik mereka bagi calon mitra dan penyandang dana.

 

3. Terhubung dengan gen-Z untuk membentuk masa depan

Mungkin alasan paling kuat bagi organisasi nirlaba untuk mengadopsi praktik ESG terletak pada kekuatan generasi-Z, dengan posisi unik mereka dalam membentuk lanskap masa depan filantropi dan dampak sosial. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa dua pertiga orang dewasa di AS secara aktif mencari dan mengikuti isu-isu keberlanjutan. Tren ini bahkan lebih terlihat di kalangan Gen-Z, yang mewakili sekitar 27 persen dari populasi AS.

Ketertarikan Gen-Z terhadap prinsip-prinsip ESG tidak hanya sebatas kesadaran, tetapi juga tindakan. Dibandingkan dengan generasi Baby Boomers dan Gen-X, investor Gen-Z jauh lebih mungkin untuk melirik investasi ESG. Dengan 72 persen tenaga kerja dunia yang terdiri dari Gen-Z dan generasi muda Milenial pada tahun 2029, statistik ini menggarisbawahi komitmen Gen-Z terhadap investasi berkelanjutan dan potensi mereka untuk membentuk kembali lanskap sektor nirlaba.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement