Selasa 30 Apr 2024 11:46 WIB

Kerusakan Alam Bisa Perlambat Pertumbuhan Ekonomi Inggris Hingga 12 Persen pada 2030

Regulator diminta Pertimbangkan risiko kerusakan alam terhadap stabilitas keuangan.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Friska Yolandha
Suasana Tower Bridge di London, Inggris, Ahad (2/10/2022). Kerusakan alam dapat menimbulkan risiko yang lebih besar bagi perekonomian Inggris.
Foto: ANTARA/Dhemas Reviyanto
Suasana Tower Bridge di London, Inggris, Ahad (2/10/2022). Kerusakan alam dapat menimbulkan risiko yang lebih besar bagi perekonomian Inggris.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kerusakan alam dapat menimbulkan risiko yang lebih besar bagi perekonomian Inggris dibandingkan pandemi COVID-19. Ini juga menghapus 300 miliar poundsterling dari pertumbuhan ekonomi Inggris jika tidak ada tindakan yang diambil untuk memperlambatnya. 

Demikian menurut hasil penelitian yang dilakukan Green Finance Institute (GFI). Dalam laporan studinya, GFI mencatat bahwa hilangnya keanekaragaman hayati dan degradasi lingkungan menciptakan risiko besar bagi perekonomian dan sektor keuangan Inggris dan dapat memperlambat pertumbuhan hingga 12 persen pada tahun 2030-an.

Baca Juga

GFI adalah sebuah forum untuk kolaborasi publik-swasta dalam bidang keuangan hijau yang didukung oleh pemerintah Inggris. Studi ini merupakan studi pertama yang sepenuhnya menilai bagaimana risiko terkait alam, seperti resistensi antimikroba dan penurunan kesehatan tanah, mempengaruhi ekonomi dan sektor keuangan Inggris, serta menemukan bahwa risiko-risiko tersebut sama merusaknya, atau bahkan lebih, dengan risiko yang terkait perubahan iklim.

"Ini adalah momen yang menentukan dan menunjukkan bahwa kita harus mulai mengintegrasikan risiko-risiko yang berkaitan dengan alam ke dalam manajemen risiko keuangan dan keputusan investasi, untuk mengurangi eksposur dan mentransisikan ekonomi kita menjadi ekonomi yang berinvestasi pada lingkungan alam," kata CEO GFI, Rhian-Mari Thomas, seperti dilansir Reuters, Selasa (30/4/2024).

Laporan ini menyerukan kepada bank sentral, regulator dan pemerintah untuk menilai dengan lebih baik risiko yang ditimbulkan oleh kehilangan alam terhadap stabilitas keuangan, dan supaya dunia usaha lebih memahami nilai yang mereka ambil dari modal alam dan berinvestasi untuk melindunginya.

Menurut GFI, tujuh bank terbesar di Inggris menghadapi kerugian jangka pendek sebesar 4 sampai 5 persen dari nilai kepemilikan domestik mereka selama dekade mendatang akibat risiko-risiko yang berhubungan dengan alam.

Sebagai salah satu negara yang paling banyak mengalami kerusakan alam di dunia, Inggris memiliki risiko tertinggi terhadap penyakit zoonosis, resistensi antimikroba, penurunan kesehatan tanah, dan dampak global terhadap ketahanan pangan, demikian ungkap laporan tersebut.

"Alam menopang kesehatan perekonomian kita, dan alam terancam oleh krisis iklim global. Tanggung jawab untuk melestarikan alam ada pada semua sektor dan lapisan masyarakat, serta keuangan hijau memiliki peran yang sangat penting,” kata Lord Benyon, menteri negara di Departemen Lingkungan Hidup, Pangan dan Urusan Pedesaan.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement