REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Lembaga GibranKu Institute menyatakan dukungan terhadap Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui penguatan program lingkungan hidup. Lembaga ini menyiapkan sejumlah agenda aksi yang akan dijalankan pada 2026.
Direktur GibranKu Institute Bayu Hermawan mengatakan, selama setahun terakhir lembaganya telah menjalankan rehabilitasi lahan, penanaman pohon, dan edukasi pengelolaan sampah. Program tersebut diklaim dirancang agar sejalan dengan kebijakan pemerintah di sektor lingkungan.
“Program-program itu mendapat dukungan dari pemerintah daerah dan berbagai instansi. Ke depan, kami ingin memastikan agenda 2026 semakin terintegrasi dengan arah kebijakan nasional, sebagaimana tertuang dalam Asta Cita dan program hijau pemerintah,” kata Bayu, Selasa (30/12/2025).
Dewan Pembina GibranKu Institute Made Hariyantha menilai prioritas pemerintah pada ekonomi hijau dan transisi energi bersih perlu diikuti aksi konkret di lapangan. Menurut dia, GibranKu Institute akan mengarahkan program 2026 pada kegiatan yang terukur.
“Salah satunya adalah gerakan penanaman satu juta pohon sebagai kontribusi terhadap rehabilitasi lingkungan dan pengendalian krisis iklim,” kata Made.
Ketua Umum GibranKu Institute Ananta Agung Junaedy menekankan peran generasi muda dalam mengawal pelaksanaan kebijakan hijau. Ia menyebut jejaring anak muda yang telah dibangun lembaganya akan dilibatkan dalam pelaksanaan program lingkungan.
“Karena itu, aksi nyata yang akan kami implementasikan pada 2026 memanfaatkan jejaring anak muda di berbagai daerah dan dikolaborasikan dengan tokoh-tokoh senior agar pelaksanaannya efektif,” kata Ananta.
GibranKu Institute menyatakan akan melanjutkan perannya sebagai mitra masyarakat sipil dalam isu lingkungan hidup. Lembaga ini juga berencana memperkuat kajian dan rekomendasi kebijakan terkait pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan refleksi dan rencana aksi GibranKu Insitute di Jakarta Utara turut dihadiri Donny Pur, pengusaha perhotelan dan investor pariwisata berbasis alam yang juga menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Sarana Pembangunan Bali, serta Ade Swargo, seorang pakar Manajemen dan Eksekutif perusahaan multinasional dan pernah menjabat petinggi organisasi pecinta lingkungan internasional.
Kehadiran mereka dinilai memperkuat perspektif bahwa agenda lingkungan juga memiliki nilai strategis dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan dan pariwisata hijau.