REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Yayasan Toyota dan Astra (YTA) menjadikan pendidikan karakter sebagai fokus utama program pengembangan sumber daya manusia (SDM) industri. Penekanan ini disampaikan YTA bertepatan dengan peringatan 50 tahun pendiriannya melalui peluncuran dan diskusi buku “Tak Lekang Dimakan Waktu” di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
Buku tersebut memuat dokumentasi perjalanan YTA sejak berdiri pada 9 Oktober 1974, termasuk perubahan orientasi program dari bantuan pendidikan menuju penguatan karakter dan pengenalan budaya industri, terutama bagi siswa sekolah menengah kejuruan (SMK).
Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto mengatakan, pembentukan karakter diperlukan untuk memastikan kesiapan generasi muda memasuki dunia kerja. Menurut dia, kebutuhan industri tidak hanya menuntut keterampilan teknis, tetapi juga sikap kerja dan integritas.
“Pendidikan karakter adalah hal penting untuk membentuk generasi penerus bangsa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia, beretika, berintegritas, dan bertanggung jawab di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks,” ujar Nandi dalam siaran pers, Selasa (27/1/2026).
Selama lima dekade, YTA menyatakan telah menyalurkan beasiswa, bantuan sarana pendidikan, serta buku dan alat peraga teknik, khususnya di bidang otomotif. Dalam beberapa tahun terakhir, program tersebut dilengkapi dengan pengenalan budaya kerja industri.
Wakil Presiden Direktur PT Toyota-Astra Motor (TAM) Henry Tanoto menyebut YTA mendorong penyesuaian pendekatan pendidikan di SMK agar selaras dengan kebutuhan industri. Fokus diarahkan pada pembiasaan nilai kerja seperti disiplin, keteraturan, dan perbaikan berkelanjutan.
“Lebih khusus lagi, YTA menargetkan pembangunan karakter untuk membentuk SDM yang tangguh. Memang masih banyak langkah yang harus dilakukan, tetapi YTA bertekad untuk terus memberikan kontribusi yang lebih besar sesuai dengan kemampuannya,” ucap Henry.
Budaya industri yang diperkenalkan antara lain konsep 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, dan Rajin, yang diterapkan sebagai dasar pembentukan disiplin dan keselamatan kerja. Selain itu, peserta didik juga diperkenalkan pada prinsip Kaizen dan Heijunka untuk memahami efisiensi dan manajemen beban kerja.
Menurut YTA, pengenalan nilai-nilai tersebut bertujuan menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri, terutama dalam menyiapkan tenaga kerja dengan sikap kerja yang konsisten.
Melalui fokus pada pendidikan karakter dan budaya industri, YTA menilai peran dunia usaha dalam pengembangan SDM tidak hanya terbatas pada dukungan fasilitas pendidikan, tetapi juga pada pembentukan sikap dan etos kerja calon tenaga kerja.