REPUBLIKA.CO.ID, BRASIL — Brasil diperkirakan mampu memobilisasi lebih dari 48 miliar dolar AS investasi keberlanjutan selama masa pemerintahan Presiden Luiz Inacio Lula da Silva. Setelah merampungkan berbagai instrumen keuangan hijau, pemerintah kini memfokuskan diri pada konsolidasi dan penarikan pendanaan.
Mantan Sekretaris Hubungan Internasional Kementerian Keuangan Brasil, Tatiana Rosito, mengatakan pada 2026 Brasil akan memprioritaskan penguatan implementasi inisiatif yang telah berjalan ketimbang membentuk instrumen baru.
Rosito, yang kini menjabat sebagai Direktur Bank Dunia untuk China, Korea, dan Mongolia, menyebut Brasil telah memiliki beragam instrumen keuangan keberlanjutan yang dipresentasikan di berbagai forum internasional seperti G20, BRICS, dan COP30.
“Kini fokusnya adalah memastikan instrumen-instrumen tersebut berjalan efektif dan mampu menarik pendanaan,” ujarnya, Selasa (3/3/2026).
Menurutnya, dengan dukungan kebijakan yang konsisten, Brasil berhasil memulihkan posisinya sebagai pemain global dalam isu lingkungan dan perubahan iklim. Negara dengan ekonomi terbesar di Amerika Latin itu dinilai telah beralih dari sekadar retorika menuju aksi konkret.
Sejumlah langkah strategis telah ditempuh, antara lain penyusunan pedoman transformasi ekologis nasional, penerbitan obligasi keberlanjutan, serta peluncuran EcoInvest—program yang memanfaatkan dana publik untuk mendorong investasi swasta pada proyek-proyek hijau.