Rabu 15 Apr 2026 14:00 WIB

Harga Plastik Melejit, Bisnis Ramah Lingkungan Malah Ketiban Untung

Kenaikan harga ini menjadi titik balik bagi bisnis berkelanjutan.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Satria K Yudha
Warga memilah sampah plastik di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 04 Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Senin (22/4/2024). Sampah rumah tangga di wilayah Bambu Apus yang didominasi oleh sampah plastik tersebut dikelola untuk didaur ulang dan dimanfaatkan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan. TPS tersebut mampu mengurangi kiriman sampah ke TPST Bantargebang sekitar 10.000 kilogram setiap bulannya.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Warga memilah sampah plastik di Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 04 Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Senin (22/4/2024). Sampah rumah tangga di wilayah Bambu Apus yang didominasi oleh sampah plastik tersebut dikelola untuk didaur ulang dan dimanfaatkan sebagai upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan. TPS tersebut mampu mengurangi kiriman sampah ke TPST Bantargebang sekitar 10.000 kilogram setiap bulannya.

REPUBLIKA.CO.ID, SEOUL — Lonjakan harga plastik akibat konflik geopolitik mulai mengubah arah industri global. Di tengah krisis pasokan, bisnis berbasis keberlanjutan justru menikmati lonjakan permintaan.

Gangguan distribusi minyak dan petrokimia akibat konflik Amerika Serikat dan Iran membuat harga plastik melesat ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Baca Juga

Kondisi ini mendorong perusahaan mencari alternatif kemasan. Produsen kemasan kosmetik ramah lingkungan asal Korea Selatan, Yonwoo, mencatat permintaan kemasan berbasis kertas melonjak hingga tiga kali lipat.

“Awalnya, ketertarikan pada (kemasan berbahan kertas) berasal dari perusahaan-perusahaan yang fokus pada keberlanjutan, tapi bila masalah plastik berkepanjangan kami memperkirakan permintaan akan terus naik,” kata Senior Manager Kolmar Korea, Kim Min-sang, Rabu (15/4/2026).

Yonwoo menyuplai kemasan ke sejumlah perusahaan besar, termasuk L’Oreal. Produk berbasis kertas ini hanya menggunakan sekitar 20 persen plastik dibanding kemasan konvensional.

Di sisi lain, Asia sebagai pengguna plastik terbesar dunia mulai mengalami pergeseran. Kawasan ini mengonsumsi sekitar sepertiga plastik global, naik tajam sejak 1990.

Namun tekanan juga dirasakan pelaku usaha. Ritel di Jepang mulai mengantisipasi kelangkaan bahan plastik, termasuk nampan dan kantong.

“Sekarang kami sedang membahas bagaimana menjual produk kami bila sudah tidak ada pemasok nampan plastik sama sekali, saya sangat khawatir, kami sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi,” kata Manajer Supermarket Marutake, Kensuke Takahashi.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement