REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan model kolaborasi konservasi penyu di Kawasan Konservasi Nasional Kepulauan Anambas. Pendekatan kolaboratif dinilai menjadi kunci menjaga keberlanjutan habitat penyu sekaligus meningkatkan keterlibatan masyarakat pesisir dalam pengelolaan konservasi.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan, Koswara mengatakan, kolaborasi diperkuat melalui pelatihan penandaan penyu menggunakan metal tag yang dilaksanakan di Pulau Mangkai guna meningkatkan sistem pemantauan populasi secara berkelanjutan. “Kolaborasi ini diperkuat melalui pelatihan penandaan penyu menggunakan metal tag yang dilaksanakan beberapa waktu lalu di Pulau Mangkai, sebagai bagian dari upaya meningkatkan sistem pemantauan dan pendataan populasi penyu secara berkelanjutan,” ujar Koswara dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Koswara menjelaskan Pulau Mangkai memiliki posisi strategis sebagai pulau terluar Indonesia sekaligus habitat penting pendaratan penyu. Pulau tersebut merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Kepulauan Anambas yang dikelola KKP.
"Karena itu, pengelolaannya tidak hanya difokuskan pada perlindungan ekosistem, tetapi juga untuk mendorong manfaat ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat melalui pengembangan ekowisata berbasis konservasi,” lanjut Koswara.
Kepala Loka Pengelolaan Kelautan Pekanbaru, Rahmad Hidayat mengatakan model kolaborasi multipihak memperkuat efektivitas konservasi karena melibatkan masyarakat sebagai garda terdepan menjaga habitat penyu. Menurut Rahmad, pelibatan masyarakat membuat pengawasan dan perlindungan ekosistem berjalan lebih berkelanjutan.
Rahmad memaparkan hasil pemantauan menunjukkan tren positif. Sepanjang periode 2022 hingga 2025 tercatat 3.139 pendaratan penyu berhasil dimonitor dengan 2.858 sarang direlokasi guna meningkatkan keberhasilan penetasan serta meminimalkan ancaman predator. “Dari total 259.221 butir telur yang terdata, sebanyak 224.075 telur berhasil menetas, dengan 221.635 tukik telah dilepasliarkan ke habitat alaminya,” ucap Rahmad.
Ketua Yayasan Jaga Mangkai, Murwanto menegaskan konservasi tidak hanya berfokus pada perlindungan spesies, tetapi juga pemberdayaan masyarakat pesisir. Keterlibatan warga didorong sejak tahap pemantauan hingga pengembangan ekowisata agar konservasi memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat lokal.
KKP menyatakan model kolaborasi konservasi ini akan terus diperluas sebagai bagian strategi nasional perlindungan spesies laut dilindungi. Kebijakan tersebut sejalan dengan arah pembangunan ekonomi biru yang menekankan perlindungan ekosistem laut sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.