REPUBLIKA.CO.ID, GUANGZHOU -- Ketika berbicara mengenai energi hijau, yang terlintas di benak banyak orang umumnya adalah panel surya, turbin angin, atau pembangkit listrik tenaga air. Namun, di China, transisi energi dikembangkan lebih luas dengan membangun ekosistem yang menggabungkan teknologi, edukasi, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kendaraan listrik sudah jadi hal biasa di China. Adopsinya yang pesat dalam 10 tahun terakhir telah didorong oleh penguatan ekosistem dan infrastruktur pendukung yang juga terintergrasi di dalam negeri.
Dilansir Xinhua, hingga akhir Mei 2026, China memiliki sekitar 22,5 juta titik pengisian daya (charging points) secara nasional. Sebanyak 4,95 juta merupakan SPKLU publik (public charging points) dan 17,55 juta merupakan charger privat yang dipasang di rumah atau area perumahan.
Pemerintah China menghitung berdasarkan charging points/gun, bukan jumlah lokasi (station). Satu SPKLU bisa memiliki beberapa charging points, sehingga jumlah lokasi fisiknya lebih sedikit daripada jumlah charging points. Pemerintah China juga menargetkan memiliki 28 juta charging points pada akhir 2027 sebagai bagian dari rencana percepatan kendaraan listrik nasional.
"Saya ingat sekali beberapa tahun lalu, perumahan kami tidak punya charging points hingga warga mengeluh dengan menempel surat protes di permukiman, besoknya charging points langsung di pasang," kata Barbara Li, penerjemah pekerja paruh waktu yang jadi menemani rombongan ASEAN Media Visit China, di Guangdong, beberapa waktu lalu.
Kerja cepat dan terukur membuat adopsi kendaraan listrik saat ini capai 43,97 juta kendaraan yang beroperasi di jalan raya China. Sementara itu produksinya mencapai 16,63 juta unit denga penjualan baru mencapai 16,49 juta unit, meningkat lebih dari 28 persen dibanding tahun sebelumnya.
Pemenuhan konsumsi listrik dari energi terbarukan jadi ambisi Pemerintah. Namun, proyek energi hijau China tidak berhenti pada inovasi menghasilkan listriknya, tetapi juga perlu memberi nilai tambah bagi masyarakat.
Salah satunya adalah Moonlight Treasure Box, sebuah gardu listrik milik China Southern Power Grid di Guangzhou yang diubah menjadi pusat edukasi publik mengenai sistem kelistrikan modern. Dari luar, bangunan ini tampak seperti gedung modern pada umumnya.
Namun di dalamnya, lantai pertama tetap berfungsi sebagai gardu listrik, sementara lantai kedua disulap menjadi ruang edukasi interaktif dengan teknologi digital, ruang imersif, dan berbagai instalasi yang menjelaskan proses distribusi listrik hingga perkembangan jaringan listrik pintar (smart grid). Lantai teratas menjadi ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menikmati panorama Kota Guangzhou.
Di pusat edukasi ini juga dipamerkan berbagai inovasi yang dikembangkan Guangzhou Power Supply Bureau, mulai dari teknologi jaringan listrik, peralatan kelistrikan modern, hingga pencapaian rekayasa yang menjadi bagian dari inovasi nasional China.
Staf News and Exhibition Center Moonlight Treasure Box, Guo Xiang, mengatakan sebagian besar kebutuhan listrik Guangzhou telah dipenuhi dari energi bersih.
"Di Guangzhou, pemenuhan energi berasal dari berbagai sumber energi bersih, termasuk tenaga air, surya, dan angin. Saat ini sekitar 50 persen kebutuhan energi dipenuhi dari sumber tersebut. Pemerintah China menargetkan dalam lima tahun ke depan porsinya meningkat menjadi sekitar 66 persen," ujar Guo Xiang.