Selasa 01 Sep 2026 14:31 WIB

Puncak El Nino September, Pemerintah Perkuat Strategi Hadapi Karhutla

Strategi disiapkan pemerintah untuk mempertahankan tren penurunan hotspot.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Gita Amanda
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengingatkan pemerintah dan masyarakat agar tidak lengah menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada September ini. (ilustrasi)
Foto: ANTARA FOTO/Jessica Wuysang
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengingatkan pemerintah dan masyarakat agar tidak lengah menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada September ini. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengingatkan pemerintah dan masyarakat agar tidak lengah menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada September ini. Meski tren hotspot sepanjang Agustus menunjukkan penurunan, September dinilai menjadi periode paling menentukan karena bertepatan dengan puncak El Nino yang disebut memiliki kekuatan setara dengan kondisi pada 2015.

Raja Juli mengatakan, kondisi karhutla pada Agustus mulai menunjukkan perbaikan setelah pemerintah bersama berbagai unsur bekerja secara intensif selama sebulan. Namun, penurunan tersebut belum menjadi alasan untuk menganggap persoalan karhutla telah selesai.

Baca Juga

“September adalah puncak El Nino. Apabila sekali lagi trennya menurun, harus kita pertahankan. Tetapi waspada,” kata Raja Juli dalam media briefing yang dipantau daring, Senin (1/9/2026).

Menurutnya, September justru merupakan “ladang perjuangan sesungguhnya” untuk menekan karhutla. Pemerintah harus memastikan kebakaran dapat ditekan serendah mungkin sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap masyarakat.

“Pertarungan kita di bulan September ini adalah ladang perjuangan di mana pemerintah ingin hadir di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.

Raja Juli menjelaskan, berdasarkan data yang ditampilkan dalam pemantauan pemerintah, kekuatan El Nino pada 2026 saat ini disebut setara dengan El Nino 2015. Kondisi tersebut juga datang lebih cepat dibandingkan pola yang sebelumnya diperkirakan.

El Nino sebelumnya tercatat terjadi pada 2015, 2019, dan 2023. Dengan pola tersebut, El Nino berikutnya semestinya terjadi pada 2027. Namun, pada 2026 fenomena tersebut datang satu tahun lebih cepat.

Perbandingan kondisi karhutla dengan 2015 juga menunjukkan perbedaan yang cukup jauh. Pada 2015, luas area terbakar yang dibandingkan dalam pemaparan tersebut mencapai sekitar 600 ribu hektare. Sementara itu, hingga Juli 2026, luas area yang tercatat terbakar mencapai 2.204 hektare.

Namun, angka tersebut belum memasukkan data Agustus. Raja Juli mengatakan pemerintah masih melakukan proses pengecekan, termasuk menggunakan drone, agar perhitungan luas area terbakar lebih akurat. Data Agustus diperkirakan baru dapat dihitung pada awal September.

Di tengah ancaman tersebut, pemerintah mencatat perkembangan positif sepanjang Agustus. Data pemantauan dari 1 hingga 31 Agustus menunjukkan hotspot di sejumlah wilayah mengalami penurunan.

Riau dan Jambi menjadi dua provinsi yang pada akhir Agustus tercatat memiliki hotspot nol. Bahkan, menurut Raja Juli, Riau telah mencatat kondisi tersebut selama dua hari terakhir.

Ia mencontohkan hasil pengecekan di Sumatera Selatan. Dari 37 hotspot yang terdeteksi, setelah dilakukan pemeriksaan lapangan hanya ditemukan 11 fire spot. Hal itu menunjukkan keberadaan hotspot tidak selalu berarti telah terjadi kebakaran di lapangan.

Kondisi gambut juga menjadi perhatian karena area yang apinya telah padam masih dapat menghasilkan asap. Karena itu, pemerintah melakukan pendinginan secara intensif untuk memastikan api tidak kembali menyala.

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi