REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kehutanan mengumumkan titik panas (hot spot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) nasional turun signifikan. Hingga Senin (28/9/2026) total hot spot high confidence nasional 365 titik, turun 194 titik dari 559 titik pada hari sebelumnya.
Berdasarkan data SiPongi, dalam pernyataannya, Kementerian Kehutanan mengungkapkan Sumatera Selatan mencatat hot spot high confidence tertinggi. Sementara Kalimatan Tengah mengalami penurunan signifikan.
Titik panas di Sumatera Selatan, pada Senin lalu tercatat 96 titik, naik dari 29 titik pada hari sebelumnya dan Jambi 25 titik naik 5 titik. Sementara Kalimatan Tengah menjadi 37 titik turun drastis dari 134 titik dan Kalimatan Selatan empat titik turun dari 25 titik.
Kalimatan Barat tidak memiliki hot spot high confidence, turun dari 11 titik pada hari sebelumnya. Riau juga tidak memiliki titik panas, sama seperti hari sebelumnya.
Kementerian Kehutanan mengungkapkan secara keseluruhan, jumlah hotspot high confidence di enam provinsi prioritas turun dari 204 menjadi 162 titik. Penguatan operasi saat ini tetap diarahkan terutama ke wilayah yang menunjukkan peningkatan maupun masih memiliki aktivitas hotspot tinggi, khususnya Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.
Kementerian Kehutanan juga kembali menegaskan hotspot bukan merupakan jumlah kejadian kebakaran. Hotspot adalah indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20.
Kementerian mengatakan satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck atau pemeriksaan langsung di lapangan. Mereka juga menegaskan akan terus memperkuat pengendalian karhutla melalui operasi terpadu di darat maupun udara.
Kementerian mencatat saat ini pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara, terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk water bombing. Sebanyak 55 unit armada udara mendukung penanganan di enam provinsi prioritas, sementara enam unit water bombing lainnya ditempatkan untuk mendukung penanganan di wilayah terdampak lainnya.
Kementerian Kehutanan juga mencatat berdasarkan pantauan BMKG Aviation pada sejumlah bandara utama di provinsi prioritas pada malam 28 September menunjukkan jarak pandang yang bervariasi. Supadio Pontianak tercatat sekitar dua kilometer dengan kondisi berasap, sementara Pekanbaru sekitar delapan kilometer, Jambi tujuh kilometer, Palembang 10 kilometer atau lebih, dan Banjarmasin sekitar sembilan kilometer.
Dalam pernyataann Kementerian mengatakan kondisi jarak pandang dapat berubah dalam waktu relatif singkat sesuai kondisi cuaca dan konsentrasi partikel di udara. Karena itu, pemantauan akan terusdilakukan untuk mendukung operasi karhutla sekaligus memastikan keselamatan aktivitas masyarakat dan penerbangan.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat, khususnya di wilayah yang mengalami penurunan kualitas udara, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara memburuk dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis. n Lintar Satria