Rabu 30 Sep 2026 08:50 WIB

Memulai Ketahanan Pangan dari Pekarangan Lahan Terbatas

Selain bernilai lebih ekonomis, ini jadi sarana membangun kemandirian komunitas.

Ibu-ibu mengikuti program pemberdayaan berbasis pemanfaatan lahan terbatas di Kelurahan Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan.
Foto: Dok. Republika
Ibu-ibu mengikuti program pemberdayaan berbasis pemanfaatan lahan terbatas di Kelurahan Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketahanan pangan bisa dimulai dari kebun sendiri atau lingkungan sekitar yang dekat dengan kita. Tak terkecuali di Jakarta yang sudah padat penduduk, ternyata masih ada lahan tak terpakai yang bisa jadi cikal bakal ketahanan pangan. 

Sebuah gerakan dimulai Universitas Sahid (Usahid) yang merupakan program pemberdayaan berbasis pemanfaatan lahan terbatas di Kelurahan Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan. Tujuannya untuk memperkuat ketahanan pangan skala rumah tangga serta mendorong kemandirian masyarakat perkotaan dalam menghadapi fluktuasi harga bahan pokok, 

Baca Juga

Selain bernilai lebih ekonomis,  juga dapat menjadi sarana untuk membangun kemandirian dari sisi komunitas. Ketua Tim PKM Usahid, Purnomosutji Dyah Prinajati, mengatakan bahwa kunci utama dari gerakan ini adalah mentransformasi kekhawatiran masyarakat atas lonjakan harga pasar menjadi aksi nyata menuju kemandirian pangan.

Dimulai dari pelatihan budidaya olerikultura pada 30 Juni 2026 hingga praktik langsung penyemaian benih unggul pada 6 Juli 2026, masyarakat diajarkan mengoptimalkan setiap sudut lahan kosong dan pekarangan rumah tinggal

"Fokus kami adalah memberikan keterampilan praktis agar setiap keluarga mampu memproduksi bahan pangan pokoknya sendiri secara mandiri. Kami membekali warga dengan pemahaman media tanam yang ideal, seperti formulasi topsoil, kompos, dan sekam bakar, serta teknik penyemaian benih sayuran agar hasil panennya optimal dan berkelanjutan," jelas Purnomosutji Dyah Prinajati.

Komoditas tanaman yang dikembangkan difokuskan pada jenis sayuran konsumsi harian yang krusial bagi ketahanan gizi keluarga sekaligus sering menjadi penyumbang inflasi, seperti cabai, tomat, pakcoy, pare, kangkung, bayam, dan sawi. Penanaman dilakukan secara efisien menggunakan metode pot dan polybag yang sangat cocok untuk pemukiman padat.

Antusiasme tinggi ditunjukkan oleh para ibu rumah tangga dan kader lingkungan di Menteng Dalam. Berbekal pemahaman dan benih unggul yang didapat, warga kini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pasokan pasar, melainkan siap memetik kebutuhan dapur langsung dari pekarangan sendiri.

Sinergi antara akademisi yang dinaungi LPPM Usahid, pemerintah melalui hibah PKM Tahun Anggaran 2026 Dirjen Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta komunitas Bank Sampah Sehati ini membuktikan bahwa ketahanan pangan nasional yang kokoh dapat diawali dari gerakan kemandirian pangan di tingkat rumah tangga.

photo
Ibu-ibu di Tebet, Jakarta Selatan mengikuti program Inisiatif membangun ketahanan pangan mandiri dari pekarangan rumah. - (Dok. Republika)

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi