REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kelompok tani di Jakarta Timur mulai memanfaatkan media sosial TikTok untuk memperluas pemasaran produk pertanian. Sebanyak 15 pengurus Kelompok Tani Mustika di Kramat Jati mengikuti pendampingan pemasaran digital yang diselenggarakan Program Studi S1 Manajemen Universitas YARSI sejak Januari 2026.
Pendampingan tersebut berfokus pada peningkatan keterampilan membuat konten promosi berupa foto dan video. Peserta juga mempelajari penggunaan media sosial untuk memperkenalkan produk kepada calon konsumen secara lebih luas.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas YARSI Muhammad Rofi’i mengatakan, program tersebut disusun berdasarkan kebutuhan kelompok tani yang masih menghadapi kendala dalam pemasaran produk. Salah satu tantangannya adalah keterbatasan kemampuan memproduksi konten promosi dan mengelola media digital.
Kegiatan pendampingan dilaksanakan secara bertahap di lingkungan Universitas YARSI dan lokasi Kelompok Tani Mustika. Dalam pelaksanaannya, peserta mendapat pelatihan langsung mengenai teknik pembuatan konten pemasaran.
"Dalam kegiatan tersebut, Andika Nuraga Budiman hadir sebagai narasumber yang memberikan pendampingan terkait pengembangan konten pemasaran digital. Materi yang diberikan berfokus pada keterampilan praktis dalam membuat konten promosi berupa foto dan video serta memanfaatkan TikTok sebagai media untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat yang lebih luas," kata Rofi’i dalam siaran pers, Selasa (13/10/2026).
Menurut Rofi’i, penggunaan TikTok dipilih karena platform tersebut memungkinkan pelaku usaha mempromosikan produk melalui video pendek. Konten yang dibuat juga dapat dibagikan dengan mudah sehingga berpotensi menjangkau lebih banyak calon pembeli.
"Pemanfaatan TikTok menjadi salah satu fokus kegiatan karena platform tersebut memungkinkan mitra menyampaikan informasi produk melalui video pendek yang kreatif dan mudah dibagikan. Dengan keterampilan tersebut, Kelompok Tani Mustika diharapkan dapat mengembangkan pola promosi yang lebih terarah, konsisten, dan sesuai dengan perkembangan perilaku konsumen di era digital," ujarnya.
Selain kemampuan membuat konten, peserta mendapat pemahaman mengenai penyusunan materi promosi yang sesuai dengan karakteristik produk. Pendampingan ini diharapkan membantu kelompok tani mengelola pemasaran secara lebih mandiri tanpa terus bergantung pada pihak lain.
Rofi’i mengatakan, program yang berlangsung hingga Oktober 2026 tersebut juga menyasar penguatan citra produk agar lebih mudah dikenal konsumen. Peningkatan keterampilan pemasaran digital diharapkan membuka peluang penjualan yang lebih luas.
"Dalam jangka panjang, peningkatan kapasitas pemasaran digital tersebut diharapkan dapat membuka peluang peningkatan pendapatan mitra secara berkelanjutan. Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan kelompok masyarakat dalam mendorong pengembangan usaha yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan pasar," ujarnya.