Kamis 15 Oct 2026 20:00 WIB

UMKM Sawarna Manfaatkan AI untuk Perluas Pasar

Pelatihan mencatat peningkatan aktivitas promosi dan transaksi pengrajin.

Universitas Bhayangkara Jakarta Raya memberikan pelatihan pemanfaatan AI untuk pemasaran digital kepada pengrajin keripik pisang di Desa Sawarna, Kabupaten Lebak, Banten.
Foto: Istimewa
Universitas Bhayangkara Jakarta Raya memberikan pelatihan pemanfaatan AI untuk pemasaran digital kepada pengrajin keripik pisang di Desa Sawarna, Kabupaten Lebak, Banten.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengrajin keripik pisang di Desa Sawarna, Kabupaten Lebak, Banten, mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membuat konten promosi dan memperluas pemasaran produk. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan penjualan pada kunjungan wisatawan, terutama saat akhir pekan dan musim liburan.

Sebanyak 10 pengrajin yang tergabung dalam Kelompok Pengrajin Kuliner Pesisir Sawarna Jaya mengikuti pelatihan pemasaran digital yang diselenggarakan Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) pada 23 Agustus 2026. Kegiatan tersebut mencakup penggunaan AI untuk menyusun deskripsi produk, membuat materi promosi, serta mengembangkan pemasaran melalui media sosial.

Baca Juga

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Ubhara Jaya Wowon Priatna mengatakan, pemanfaatan teknologi digital dapat membantu pengrajin menjangkau konsumen di luar kawasan wisata Sawarna. Menurut dia, kemampuan membuat konten promosi secara mandiri menjadi salah satu kebutuhan pelaku usaha kecil dalam mengembangkan pasar.

“Selama ini, penjualan keripik pisang di Sawarna masih mengandalkan pembelian langsung dari wisatawan. Sebagian pengrajin telah menerima pesanan melalui WhatsApp dan menggunakan media sosial, tetapi kegiatan promosi belum dilakukan secara rutin dan terencana,” kata Wowon, Kamis (15/10/2026),

Dalam pelatihan tersebut, peserta mempraktikkan penggunaan AI untuk membuat deskripsi produk, tulisan media sosial, dan cerita singkat mengenai keripik pisang sebagai kuliner lokal Sawarna. Mereka juga mendapat pendampingan dalam pembuatan video pendek, penggunaan WhatsApp Business, serta pemanfaatan marketplace untuk pemasaran.

Wowon menjelaskan, pelatihan tidak hanya berfokus pada pengenalan teknologi, tetapi juga penerapannya dalam kegiatan usaha sehari-hari. Pengrajin didampingi untuk memperbaiki tampilan produk, membangun identitas merek, dan menyusun materi promosi yang dapat digunakan secara berkelanjutan.

Hasil evaluasi awal menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap pemasaran digital. Berdasarkan penilaian mandiri secara retrospektif, rata-rata skor kompetensi 10 peserta meningkat dari 3,02 menjadi 4,45 pada skala satu hingga lima.

Penilaian tersebut mencakup pemahaman pemasaran digital, penguatan merek, pembuatan konten, penggunaan AI, dan pemanfaatan saluran penjualan daring. Meski demikian, hasil tersebut masih merupakan penilaian mandiri peserta dan belum menggambarkan dampak jangka panjang terhadap usaha mereka.

Pemantauan awal juga mencatat peningkatan aktivitas pemasaran digital setelah pelatihan. Jumlah konten promosi bertambah dari tiga menjadi 10, interaksi digital meningkat dari 22 menjadi 68, sedangkan transaksi yang tercatat naik dari tujuh menjadi 18.

Selain memberikan pelatihan, tim Ubhara Jaya yang terdiri atas Wowon Priatna, Agus Hidayat, dan Agus Dharmanto menyiapkan sejumlah perangkat pendukung pemasaran. Perangkat tersebut meliputi desain identitas produk dan kemasan, katalog digital, kalender konten, panduan penggunaan AI, serta sarana pemesanan melalui kode QR dan WhatsApp Business.

Perangkat pemasaran tersebut masih dalam tahap penyempurnaan sebelum diserahkan kepada kelompok pengrajin. Sejumlah mahasiswa juga dilibatkan untuk membantu peserta mempraktikkan penggunaan teknologi dan pembuatan materi promosi.

Program pendampingan berlangsung sejak Juni hingga November 2026. Dalam periode tersebut, tim Ubhara Jaya akan membantu pengrajin membiasakan diri memperbarui konten, mengelola informasi produk, melayani pelanggan, serta mencatat perkembangan pesanan secara mandiri.

Melalui pendampingan berkelanjutan, para pengrajin diharapkan mampu mengembangkan pemasaran di luar penjualan langsung kepada wisatawan. Pemanfaatan teknologi digital juga diharapkan membuka peluang peningkatan penjualan produk kuliner lokal Sawarna.

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi