Sabtu 17 Oct 2026 09:53 WIB

Pakar ITB: Pemanfaatan Panas Bumi Perlu Diimbangi Edukasi Publik

PLTP jadi sumber energi terbarukan yang bisa jadi based load

Ilustrasi petugas PLN IP sedang melakukan koordinasi untuk operasional PLTP Kamojang.
Foto: dok Republika
Ilustrasi petugas PLN IP sedang melakukan koordinasi untuk operasional PLTP Kamojang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia masih jauh dari potensi yang tersedia. Dari potensi mencapai 23,2 gigawatt (GW), kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yang telah beroperasi baru sekitar 2,78 GW. Pakar hidrogeologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Lambok M. Hutasoit, menilai pengembangan panas bumi perlu berjalan beriringan dengan edukasi masyarakat mengenai keamanan dan pengelolaan lingkungannya.

Lambok mengatakan, Indonesia memiliki potensi panas bumi yang besar karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Jawa Barat menjadi salah satu wilayah dengan potensi panas bumi yang melimpah, meski sejumlah provinsi lain juga memiliki sumber daya serupa.

“Potensi panas bumi Indonesia itu sangat besar. Di Indonesia, salah satu wilayah dengan potensi panas bumi paling besar adalah Jawa Barat. Provinsi-provinsi lain juga memiliki potensi panas bumi. Jadi, memang masih sangat banyak yang bisa dikembangkan,” ujar Lambok saat dihubungi, Jumat (16/10/2026).

Menurut dia, edukasi publik menjadi bagian penting dalam pengembangan PLTP, terutama untuk menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai dampak aktivitas panas bumi terhadap ketersediaan air tanah. Ia menjelaskan, reservoir panas bumi yang menjadi sumber energi umumnya berada pada lapisan batuan berbeda dari akuifer dangkal yang memasok air untuk kebutuhan rumah tangga.

“Reservoir panas bumi dengan akuifer air tanah itu kebanyakan tidak berhubungan secara langsung. Jadi, tidak bisa begitu saja dikatakan bahwa ketika reservoir panas bumi dimanfaatkan, air tanah di atasnya otomatis akan ikut tersedot,” kata Lambok.

Meski demikian, ia menegaskan, hubungan antara reservoir panas bumi dan akuifer tetap perlu diteliti berdasarkan kondisi geologi setiap wilayah. Karakteristik lapisan batuan di bawah permukaan bumi berbeda-beda. Ada lapisan yang dapat meloloskan air, tetapi ada pula yang menghambat pergerakan fluida.

Karena itu, pengembang perlu memahami kondisi geologi setempat sekaligus menjelaskan sistem panas bumi kepada masyarakat. Penjelasan tersebut mencakup susunan lapisan batuan, lokasi reservoir yang dimanfaatkan, serta langkah pengelolaan lingkungan untuk meminimalkan risiko.

Lambok juga menjelaskan, pengeboran panas bumi hingga kedalaman sekitar 2.000 meter masih berlangsung di kerak bumi. Kedalaman tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan jarak menuju inti bumi yang mencapai ribuan kilometer.

“Kalau dibandingkan dengan struktur bumi secara keseluruhan, kedalaman 2.000 meter itu tidak ada apa-apanya. Kalau kita berbicara mengenai kedalaman sampai ke inti bumi, itu jaraknya ribuan kilometer,” ujarnya.

Dalam pengelolaan reservoir, pengembang panas bumi juga menerapkan mekanisme reinjeksi, yakni mengembalikan fluida sisa produksi ke dalam reservoir. Langkah ini membantu menjaga tekanan reservoir agar produksi energi dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“Metode itu sangat membantu. Justru itu memang disarankan dan harus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan pengembang panas bumi. Tujuannya untuk menjaga tekanan reservoir. Istilahnya pressure maintenance,” kata Lambok.

Ia juga menekankan pentingnya perlindungan kawasan resapan air. Dalam penelitiannya di Wayang Windu, Jawa Barat, Lambok menggunakan analisis isotop air untuk mengidentifikasi daerah resapan. Informasi tersebut dapat membantu pengembang memahami sistem hidrologi di sekitar wilayah operasi panas bumi.

Pengembangan PLTP di Indonesia antara lain berlangsung di Kamojang, Jawa Barat. Pembangkit ini telah beroperasi secara komersial sejak 1983 dan kini memiliki lima unit dengan total kapasitas terpasang 235 megawatt (MW).

Staf Khusus Wakil Presiden sekaligus Komisaris Pertamina Patra Niaga, Tina Talisa, sebelumnya mengunjungi kawasan Kamojang untuk melihat proses produksi listrik panas bumi, termasuk pengelolaan air dan sistem pengeboran.

Melalui akun Instagram pribadinya, Tina menilai pengalaman Kamojang menunjukkan bahwa pengembangan energi panas bumi dapat berjalan berdampingan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar.

“Kamojang bukan hanya cerita tentang pembangkit listrik. Selama puluhan tahun, pengembangan panas bumi di sini tumbuh berdampingan dengan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya,” tulis Tina.

Lambok memperkirakan pemanfaatan panas bumi Indonesia masih berada di kisaran 10 persen dari keseluruhan potensi nasional. Menurut dia, besarnya sumber daya tersebut membuka peluang untuk meningkatkan kontribusi panas bumi dalam penyediaan energi nasional.

Namun, peningkatan kapasitas PLTP perlu disertai transparansi informasi mengenai karakteristik geologi, proses produksi, serta pengelolaan risiko lingkungan. Dengan pemahaman yang memadai, masyarakat diharapkan dapat menilai pengembangan panas bumi berdasarkan kondisi dan kajian teknis di setiap wilayah.

Berita Lainnya

Rekomendasi