Senin 22 Jan 2024 09:16 WIB

Pengamat: Ekonomi Berkelanjutan Mesti Libatkan Perempuan dan Anak

Anak dan perempuan adalah kelompok yang paling terdampak oleh krisis iklim.

Dua warga bersama anaknya berusaha melintasi banjir di Desa Napai, Woyla Barat, Aceh Barat, Aceh, Minggu (7/5/2023). Data Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyebutkan, banjir yang disebabkan tingginya intensitas hujan dan meluap beberapa sungai di  Kabupaten Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Jaya, Aceh Tenggara, Aceh Singkil dan Kota Subulussalam tersebut mengakibatkan ribuan rumah warga terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 60-150 cm.
Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Dua warga bersama anaknya berusaha melintasi banjir di Desa Napai, Woyla Barat, Aceh Barat, Aceh, Minggu (7/5/2023). Data Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menyebutkan, banjir yang disebabkan tingginya intensitas hujan dan meluap beberapa sungai di Kabupaten Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Jaya, Aceh Tenggara, Aceh Singkil dan Kota Subulussalam tersebut mengakibatkan ribuan rumah warga terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 60-150 cm.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Pusat Studi Agama, Lingkungan, dan Perubahan Iklim, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Maila Dinia Husni Rahiem, menyatakan bahwa kebijakan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan mesti melibatkan perempuan dan anak.

 

Baca Juga

Pada debat cawapres yang dilaksanakan Ahad (21/1/2024), moderator membacakan pertanyaan dari panelis kepada Cawapres nomor urut 03, Mahfud MD, bahwa sejak 2014, terjadi perampasan 8,5 juta hektare wilayah adat, mengakibatkan 678 kasus kriminalisasi dan pemiskinan perempuan adat.

 

 

"Perempuan dan anak-anak memegang peranan krusial dalam pembangunan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan, demikian pula dalam konteks kebijakan lingkungan dan energi. Perempuan, sebagai tenaga kerja, pengusaha, dan pengelola utama dalam rumah tangga, memiliki pengaruh signifikan dalam ekonomi, termasuk di sektor informal dan pertanian," katanya di Jakarta, Senin (22/1/2024).

 

Dia juga menyampaikan, kebijakan yang mendorong kesetaraan gender dan memperhatikan aspek pendidikan bagi anak dalam penggunaan sumber daya alam dan energi terbarukan tidak hanya memajukan ekonomi, tetapi juga dapat memastikan keadilan dan keberlanjutan.

 

"Perlu ada fokus kebijakan pada kebutuhan anak-anak, khususnya untuk lingkungan yang lebih sehat, memastikan pembangunan yang adil dan menyeluruh, serta membuat kebijakan lingkungan yang memperhatikan aspek pendidikan, sehingga sejak dini anak sudah belajar bijak menggunakan energi, sadar lingkungan, dan bertanggung jawab dalam perilakunya yang dapat berdampak pada lingkungan," ujar dia.

 

Untuk itu, menurutnya, penting membuat kebijakan yang memperhatikan perempuan dan anak-anak demi menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan menjamin keberlanjutan jangka panjang untuk kesejahteraan generasi mendatang.

 

"Anak-anak dan perempuan adalah kelompok yang paling terdampak oleh bencana alam dan situasi krisis. Dalam konteks ini, kebijakan yang mempertimbangkan kebutuhan khusus mereka dapat meningkatkan ketahanan keluarga dan masyarakat terhadap keadaan darurat," tuturnya.

 

KPU RI telah menetapkan tiga pasangan capres-cawapres peserta Pilpres 2024 yakni Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dengan nomor urut 1, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka nomor urut 2, dan Ganjar Pranowo-Mahfud Md nomor urut 3.

 

Selepas debat pertama pada 12 Desember 2023, debat kedua 22 Desember 2023, dan debat ketiga 7 Januari 2024, KPU menggelar debat keempat yang mempertemukan para cawapres. Tema debat keempat meliputi energi, sumber daya alam (SDA), pangan, pajak karbon, lingkungan hidup, agraria, dan masyarakat adat.

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement