Selasa 06 Jan 2026 08:50 WIB
Lipsus Krisis Sampah

Memutus Rantai Sampah dari Hulu ke Hilir

Solusi permasalahan sampah tidak selalu lahir dari proyek besar.

Pemulung memilah sampah plastik di zona perluasan atau zona 5 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (16/7/2025).
Foto: ANTARA FOTO/Abdan Syakura
Pemulung memilah sampah plastik di zona perluasan atau zona 5 Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu (16/7/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Lintar Satria

Krisis sampah di Indonesia bukan hanya persoalan kebersihan kota, melainkan ancaman sistemik yang menyangkut kesehatan publik, perubahan iklim, dan ketahanan ekonomi daerah. Dengan timbulan puluhan juta ton per tahun dan tingkat pengelolaan yang belum mencapai separuhnya, sistem persampahan nasional berada dalam tekanan serius.

Di tengah situasi itu, solusi tidak selalu lahir dari proyek besar. Semuanya bisa dimulai dari tingkat terkecil, yaitu di tempat tinggal masing-masing, dari kampung-kampung yang mulai memilah dan mengolah sampah dapur.

Di RW 14 Kelurahan Sukamiskin, Kota Bandung, Jawa Barat, perubahan itu berangkat dari keresahan sederhana. Warga resah karena sampah menumpuk, bau, dan selalu berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa pernah benar-benar selesai. Sistem kumpul–angkut–buang yang selama ini dijalankan terasa makin rapuh, terutama ketika TPA penuh dan pengangkutan terganggu.

Dari kegelisahan itu, warga mulai membangun kebiasaan baru, memilah dan mengelola sampah dari sumbernya, terutama sampah organik rumah tangga.

Inisiatif tersebut kemudian terorganisasi dalam Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Taman Kabisa. Di tahap awal, upaya yang dilakukan terbilang sederhana, mulai dari pemilahan sampah dapur hingga pengolahan skala kecil. Namun dari proses itu, warga mulai menyadari bahwa persoalan sampah tidak harus menunggu solusi dari hilir.

Tubagus Ari, yang kemudian mendirikan Ngadaur, melihat potensi besar dari gerakan akar rumput tersebut. Menurutnya, persoalan sampah bisa dipotong sejak awal jika masyarakat dibekali pengetahuan praktis dan pendampingan yang konsisten.

“Seiring waktu, dampaknya terasa. Lingkungan lebih bersih, volume sampah berkurang, dan muncul manfaat ekonomi. Dari gerakan warga ini, Ngadaur kemudian berkembang menjadi startup sosial atau social entrepreneur, tanpa meninggalkan akar komunitasnya. Prinsip kami tetap sama, yaitu solusi harus sederhana, ramah lingkungan, dan bisa dijalankan oleh masyarakat,” kata Ari kepada Republika, Jumat (2/1/2026).

photo
Proses pengolahan sampah organik di RW 14 Kelurahan Sukamiskin, Kota Bandung, Jawa Barat. - (Ngadaur)

Ngadaur menempatkan sampah organik sebagai fokus utama. Sampah jenis ini mendominasi timbulan kota dan menjadi sumber persoalan ketika bercampur dengan material lain. Organik yang membusuk di TPA melepaskan gas metana, salah satu gas rumah kaca dengan daya rusak tinggi terhadap iklim.

Salah satu pendekatan yang digunakan Ngadaur adalah magotisasi, pengolahan sampah organik menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF). Sisa makanan, sayuran, dan limbah dapur dijadikan pakan larva yang mampu mengurai material organik secara cepat dan efisien.

Proses tersebut dikelola secara terkontrol, mulai dari pemilahan, pemberian pakan, hingga panen larva dan residu. Dengan metode ini, volume sampah organik dapat ditekan hingga setengahnya, sekaligus mengurangi potensi emisi metana dari TPA.

Selain itu, magotisasi menghasilkan produk bernilai ekonomi berupa pakan ternak berprotein tinggi dan residu kompos yang dikenal sebagai kasgot.

“Magotisasi bukan sekadar teknologi, tapi solusi praktis yang bisa diterapkan di banyak tempat,” kata Ari.

Namun, peningkatan kesadaran masyarakat tidak selalu berbanding lurus dengan perubahan perilaku. Ari mengakui konsistensi pemilahan di sumber masih menjadi tantangan besar. Keterbatasan lahan, pembiayaan, dan regulasi yang masih berpihak pada sistem lama juga membatasi laju pengembangan.

“Banyak yang ingin sampahnya selesai, tapi belum siap disiplin memilah. Kami juga menghadapi keterbatasan lahan, pembiayaan, dan regulasi yang masih cenderung berpihak pada sistem lama kumpul–angkut–buang,” ujarnya.

Untuk sampah non-organik, Ngadaur menerapkan prinsip zero waste dengan pemilahan ketat berdasarkan jenis material. Plastik keras, plastik fleksibel, kertas, dan logam disalurkan ke bank sampah dan mitra daur ulang.

Residu yang benar-benar tidak bisa diolah ditekan seminimal mungkin agar TPA tidak lagi menjadi tujuan utama.

Pendekatan ini terbukti relevan saat terjadi kebakaran TPA Sarimukti yang memicu darurat sampah di Bandung Raya. Krisis tersebut memperlihatkan betapa rapuhnya ketergantungan kota pada TPA sebagai satu-satunya solusi.

“Kami fokus pada edukasi praktis dan pendampingan langsung. Bukan hanya sosialisasi, tapi juga SOP sederhana, pelatihan, dan monitoring. Perubahan perilaku hanya bisa terjadi jika masyarakat merasa mampu dan melihat hasilnya,” kata Ari.

Sepanjang 2025, rekapitulasi PT Ngadaur Bakti Solusi menunjukkan hampir 197 ton sampah berhasil dikelola. Dari pengolahan tersebut, Ngadaur memperkirakan berhasil menghindari pelepasan sekitar 18,8 ton gas metana, setara dengan pencegahan sekitar 526 ton emisi karbon dioksida ekuivalen.

Skala komunitas memang kecil dibanding timbulan nasional, tetapi ia menawarkan logika penting. Sampah yang dipotong dari sumber berarti beban pengangkutan berkurang, TPA mendapat ruang bernapas, dan emisi dapat ditekan. Dalam konteks perubahan iklim, pengelolaan sampah bukan sekadar isu kebersihan, melainkan bagian dari strategi mitigasi.

photo
Proses pengolahan sampah organik di RW 14 Kelurahan Sukamiskin, Kota Bandung, Jawa Barat. - (Ngadaur)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement