Senin 05 Feb 2024 13:32 WIB

PUPR: Pengelolaan Air Bersih Butuh Pendanaan Besar  

27 persen penduduk global masih kekurangan akses terhadap air bersih.

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Ahmad Fikri Noor
Foto udara suasana Bendungan Semantok di Rejoso, Nganjuk, Jawa Timur, Rabu (3/1/2024).
Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Mada
Foto udara suasana Bendungan Semantok di Rejoso, Nganjuk, Jawa Timur, Rabu (3/1/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengelolaan air bersih dan sanitasi masih menjadi persoalan yang dihadapi negara-negara global. Saat ini masih terdapat 2,2 miliar orang atau 27 persen penduduk global yang masih kekurangan akses terhadap air bersih dan sanitasi.

Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum dan Perumahan Kementerian PUPR Herry Trisaputra Zuna saat memberi sambutan dalam acara 4th Workshop Designing Global Water Fund Establishment mengatakan, sekitar separuh penduduk dunia menghadapi kelangkaan air yang signifikan setidaknya sekali dalam setahun.

Baca Juga

"Aksi mendesak masih perlu dilakukan secara global dan lokal untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dalam pengelolaan air dan sanitasi yang aman bagi masyarakat," ujar Harry di Menara Danareksa, Jakarta, Senin (5/2/2024).

Harry menyebut, pengelolaan air dan sanitasi juga membutuhkan perhatian dan pendanaan yang besar. Ini mengingat, kurang dari tiga persen pendanaan iklim global yang dialokasikan untuk air. 

 

"Saat ini kurang dari 3 persen total pendanaan iklim dialokasikan untuk inisiatif terkait air. Dengan hanya 1/10 yang didedikasikan untuk layanan air dan sanitasi," ujarnya.

Untuk itu, Kementerian PUPR menggelar workshop ke-4 yang menjadi bagian dari Road to World Water Forum (WWF) ke-10 2024 di Bali, Mei mendatang. Melalui forum ini diharapkan  menghasilkan sejumlah rekomendasi berkaitan dengan pembiayaan pengelolaan air yang berkelanjutan sehingga bisa dirumuskan bersama dalam acara puncak WWF.

Khususnya untuk Indonesia yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan WWF ke-10 mendorong untuk menjembatani pendanaan tahunan setidaknya 114 miliar dolar AS per tahun untuk mencapai target SDGs keenam terkait air dan sanitasi pada tahun 2030.

"Pendanaan air global muncul sebagai topik yang diusulkan untuk sesi panel tingkat tinggi yang akan menjadi bagian dari Word Water Forum ke-10 pada tahun 2024," ujarnya.

Untuk Indonesia sendiri kata Harry, Pemerintah telah membentuk Indonesia Water Fund (IWF) melalui danareksa untuk memajukan investasi dalam penyediaan air bersih di seluruh negeri. Melalui IWF ini diharapkan akan mengoperasikan dana hingga 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 15 triliun yang akan didedikasikan untuk tujuan proyek peningkatan akses terhadap air bersih yang akan bermanfaat bagi lebih dari 40 juta orang di seluruh negeri.

"Acara hari ini memberikan kesempatan berharga bagi kita untuk mengeksplorasi dan menyusun desain utama arsitektur pendanaan global air dan membuka jalan bagi pendanaannya," ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement