Sabtu 02 Mar 2024 14:25 WIB

Perubahan Iklim Ancam Keberadaan Olahraga Musim Dingin

Olahraga ski kian terancam dengan jumlah salju yang sedikit akibat perubahan iklim.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Kendaraan melewati es yang tergantung di pegunungan yang tertutup salju (ilustrasi)
Foto: EPA-EFE/FAROOQ KHAN
Kendaraan melewati es yang tergantung di pegunungan yang tertutup salju (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pietro Casartelli selalu bermimpi untuk menjadi atlet ski profesional. Namun, pemain ski alpine berusia 18 tahun tersebut kini diliputi kekhawatiran karena perubahan iklim bisa membuat cita-citanya menjadi lebih sulit dan lebih mahal untuk dicapai.

Tahun lalu, ketika lereng ski yang biasa digunakan untuk berlatih mencair karena peningkatan suhu, Casartelli berencana untuk bergabung dengan kamp pelatihan di Chili. Namun, perjalanan tersebut dibatalkan karena tidak banyak calon peserta yang mampu membayar biayanya. Sistem cuaca yang memanas dan musim dingin yang lebih pendek mengancam olahraga musim dingin, serta menguji tekad para profesional dan amatir di seluruh Eropa.

Baca Juga

Sementara itu, Hautacam -sebuah resor ski di Pyrenees, Perancis- telah mengganti namanya menjadi "Hautacam Plage" (atau Pantai Hautacam) di mana 20 landasan ski-nya telah diubah menjadi tempat hiking dan bersepeda, bukan lagi olahraga musim dingin.

"Jika kita terus mengalami musim seperti ini, kita akan menutup tempat ski ini," kata Josiane Sempe, pemilik toko penyewaan ski di Hautacam, seperti dikutip Reuters, Sabtu (2/3/2024).

 

Wisatawan dapat bersepeda di atas zip line alih-alih bermain ski. "Apakah ini akan menjadi satu-satunya jalan untuk resor kami di musim dingin? Itu pertanyaan yang sulit untuk dijawab,” kata Marie-Florentine Hulin, manajer komunikasi dan pemasaran resor.

Di resor terdekat, Bareges, para pemain ski memiliki pilihan lereng salju buatan yang dikelilingi pegunungan tanpa salju.

"Kita jadi harus bertanya pada diri sendiri, kapan waktu yang tepat untuk memulai lomba ski, dan dalam kondisi apa kita bisa menyelenggarakan lomba ski ini," kata Fabien Saguez, presiden Federasi Ski Prancis (FFS), yang beranggotakan 100 ribu orang dan separuhnya adalah pemain ski amatir.

Survei International Biathlon Union (IBU) menunjukkan bahwa sekitar 60 persen atlet dalam olahraga yang menggabungkan ski dan menembak ini, telah merasakan dampak perubahan iklim yang memengaruhi kondisi latihan dan kompetisi. Direktur keberlanjutan FIS, Susanna Sief, menambahkan bahwa cuaca yang sulit diprediksi merupakan tantangan yang lebih besar bagi olahraga musim dingin.

Selama kondisi cuaca tak menentu dan peningkatan suhu, FIS harus membatalkan dua balapan ski di Jerman dan Prancis bulan ini. Sementara itu, Piala Dunia Snowboard menghadapi badai besar di Mammoth, California yang membawa rekor curah salju. Menjelang Olimpiade Musim Dingin Milano-Cortina 2026, ada kekhawatiran bahwa perubahan iklim akan mengancam kompetisi tersebut.

"Pada pertengahan abad ini, praktis hanya akan ada 10-12 NOC (Komite Olimpiade Nasional) yang dapat menjadi tuan rumah acara-acara salju ini," kata Komite Olimpiade Internasional (IOC).

Kantor audit publik Prancis mengatakan bahwa model ekonomi untuk resor ski di negara tersebut kehabisan tenaga dalam menghadapi perubahan iklim dan sebagian besar resor kemungkinan besar akan terpengaruh pada tahun 2050, dengan wilayah selatan Pegunungan Alpen yang paling terpukul. Laporan ini menyoroti bagaimana pihak berwenang lambat beradaptasi, kata David Ponson, direktur area ski di operator resor ski Prancis, Compagnie des Alpes (CDAF.PA).

Stephane Remy, seorang pengunjung di Hautacam, mengatakan bahwa mereka yang ingin menikmati gunung di musim dingin harus beralih ke olahraga baru.

"Situasi salju sepertinya akan semakin memburuk. Jadi sebaiknya kita beradaptasi dengan hal ini dan mencari kegiatan lain di alam, seperti bersepeda atau mendaki gunung,” kata Remy.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement