Rabu 20 Mar 2024 16:19 WIB

Permintaan Minyak Disebut Belum Capai Puncaknya pada 2030

Permintaan minyak akan capai rekor baru sebesar 104 juta barel per hari pada 2024.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Permintaan minyak akan mencapai rekor baru sebesar 104 juta barel per hari (bph) pada 2024.
Foto: www.pixabay.com
Permintaan minyak akan mencapai rekor baru sebesar 104 juta barel per hari (bph) pada 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Permintaan minyak global tidak akan mencapai puncaknya dalam beberapa waktu ke depan, sehingga para pembuat kebijakan perlu memastikan investasi yang cukup dalam minyak dan gas untuk memenuhi konsumsi dan meninggalkan fantasi penghapusan bahan bakar fosil secara bertahap. Demikian menurut CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, pada Senin.

Pimpinan perusahaan energi terbesar di dunia tersebut mendesak penyusunan ulang rencana transisi energi global, dalam sambutannya di hadapan para eksekutif minyak dan gas pada konferensi CERAWeek di Houston.

Baca Juga

Nasser mengatakan, permintaan minyak akan mencapai rekor baru sebesar 104 juta barel per hari (bph) pada tahun 2024. Meskipun investasi meningkat, energi alternatif belum mampu menggantikan hidrokarbon dalam skala besar.

“Semua ini memperkuat pandangan bahwa puncak produksi minyak dan gas tidak mungkin terjadi dalam beberapa waktu ke depan, apalagi pada tahun 2030,” kata Nasser seperti dilansir Reuters, Rabu (20/3/2024).

“Kita harus meninggalkan fantasi penghapusan minyak dan gas secara bertahap, dan sebaliknya berinvestasi pada minyak dan gas secara memadai, yang mencerminkan asumsi permintaan yang realistis, selama itu penting,” tambah Nasser, dalam sambutannya yang mendapat tepuk tangan dari para hadirin.

Nasser mengungkapkan bahwa meningkatnya permintaan dari negara-negara berkembang dapat mendorong pertumbuhan permintaan minyak hingga tahun 2045.

Perkiraan pertumbuhan permintaan jangka panjang ini sejalan dengan perkiraan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan berbeda dengan perkiraan untuk puncak permintaan pada tahun 2030 dari pengawas energi Barat, Badan Energi Internasional (IEA). Arab Saudi adalah pemimpin de facto OPEC, dan Amerika Serikat adalah kontributor terbesar IEA.

“Yah, itu hanya satu pendapat,” ujar Menteri Luar Negeri AS Jennifer Granholm mengomentari pernyataan Nasser alam sebuah wawancara dengan Reuters.

“Ada penelitian lain yang menunjukkan hal sebaliknya, yaitu permintaan minyak dan gas serta permintaan fosil akan mencapai puncaknya pada tahun 2030,” kata Granholm.

OPEC dan IEA berbeda pendapat dalam hal perkiraan permintaan jangka pendek dan jangka panjang, sebagian karena perbedaan pandangan mereka mengenai transisi energi.

Lebih lanjut, Nasser menyampaikan bahwa mengurangi emisi gas rumah kaca dari hidrokarbon melalui penangkapan karbon dan teknologi lainnya memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan energi alternatif. Menurut dia, sumber energi dan teknologi baru hanya boleh diperkenalkan jika sudah benar-benar siap dan berdaya saing secara ekonomi.

“Gangguan pengiriman di Laut Merah akibat serangan kelompok Houthi Yaman telah membuat situasi semakin ketat di pasar pelayaran,” kata Nasser.

Kelompok yang bersekutu dengan Iran telah menyerang kapal-kapal di Laut Merah dan Teluk Aden sejak November, sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina selama perang Israel dengan Hamas di Gaza.

Walhasil, minyak membutuhkan waktu 2-3 pekan lebih lama untuk mencapai tujuannya karena kapal-kapal dialihkan untuk menghindari kawasan tersebut. Nasser mengatakan, masalah pengiriman ini berdampak kecil pada Saudi Aramco, sebagian karena adanya jaringan pipa East West. Pipa itu memungkinkan Aramco memuat kapal-kapal di utara wilayah yang diserang Houthi.

“Eropa telah menjadi pasar yang lebih besar bagi Aramco karena masalah pelayaran di Laut Merah,” katanya. Nasser menegaskan kembali bahwa Aramco memiliki kapasitas cadangan sebesar 3 juta barel per hari untuk memenuhi gangguan tak terduga pada pasokan global.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement