Rabu 27 Mar 2024 14:25 WIB

Pedagang Pakaian Bekas Kenya Menentang Usulan Pembatasan Ekspor Uni Eropa

Uni Eropa mengekspor 1,4 juta ton tekstil bekas pada tahun 2022.

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah
Uni Eropa mengekspor 1,4 juta ton tekstil bekas pada tahun 2022, lebih dari dua kali lipat lebih banyak dari tahun 2000 menurut data perdagangan PBB.
Foto: www.freepik.com
Uni Eropa mengekspor 1,4 juta ton tekstil bekas pada tahun 2022, lebih dari dua kali lipat lebih banyak dari tahun 2000 menurut data perdagangan PBB.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Usulan Prancis, Denmark dan Swedia untuk membatasi ekspor pakaian bekas dari Uni Eropa dapat merugikan industri thrifting atau penjualan kembali pakaian di Kenya, yang mempekerjakan 2 juta warga Kenya. Demikian menurut seorang perwakilan penjual pakaian bekas.

Uni Eropa mengekspor 1,4 juta ton tekstil bekas pada tahun 2022, lebih dari dua kali lipat lebih banyak dari tahun 2000 menurut data perdagangan PBB. Ekspor ke negara-negara berkembang dapat menyebabkan polusi ketika pakaian yang tidak dapat dijual kembali berakhir di tempat pembuangan akhir.

Baca Juga

Ketiga negara tersebut mengusulkan agar Uni Eropa menerapkan Konvensi Basel untuk pakaian bekas, melarang ekspor limbah tekstil berbahaya dan mengharuskan persetujuan terlebih dahulu sebelum mengimpor limbah tekstil.

"Ekspor limbah tekstil dari Uni Eropa ke negara-negara berkembang menyebabkan masalah lingkungan, sosial dan kesehatan yang signifikan. Uni Eropa harus mengakhiri praktik ini," kata wakil perwakilan tetap Denmark untuk Uni Eropa, Soren Jacobsen, dalam pertemuan Dewan Lingkungan Hidup di Brussels.

 

Wakil perwakilan tetap Prancis untuk Uni Eropa, Cyril Piquemal, menambahkan bahwa tujuan dari memasukkan pakaian bekas ke dalam Konvensi Basel adalah untuk mengurangi atau bahkan mengakhiri ekspor pakaian bekas dari Uni Eropa. Sebagai gantinya, ia mendorong pengembangan daur ulang tekstil di kawasan Uni Eropa.

Namun Teresia Wairimu Njenga, ketua Asosiasi Konsorsium Mitumba di Kenya, yang mewakili para penjual pakaian bekas, mengatakan bahwa impor pakaian bekas telah mendukung mata pencaharian dan menghasilkan pendapatan pajak bagi negara tersebut. Njenga membantah bahwa impor tersebut berisi sejumlah besar barang yang tidak dapat digunakan lagi dan berakhir di TPA.

"Tidak ada yang memberi kami sampah secara paksa, karena apa yang kami beli adalah pakaian berkualitas baik, dan jika pemasok ingin menjual sampah kepada kami, kami dengan senang hati akan menolak kiriman mereka," kata Njenga seperti dilansir Reuters, Rabu (27/3/2024).

Kenya mengimpor 177.386 ton pakaian bekas pada tahun 2022, meningkat 76 persen dari jumlah yang diimpor pada tahun 2013, menurut data perdagangan PBB. Negara-negara Afrika termasuk Ghana, Senegal, dan Afrika Selatan juga merupakan pengimpor pakaian bekas yang signifikan, menurut data tersebut.

Sekitar 1 hingga 2 persen dari setiap bal pakaian bekas yang diimpor berakhir sebagai limbah, menurut penelitian yang ditugaskan oleh asosiasi tersebut dan diterbitkan pada bulan September tahun lalu, berdasarkan 120 wawancara dengan para importir pakaian bekas di Nairobi.

Njenga telah bertemu dengan para pejabat di Lithuania, Finlandia, dan Swedia, untuk menentang proposal tersebut. Ia juga berencana untuk bertemu dengan para pejabat dari Direktorat Jenderal Perdagangan Komisi Eropa dan Direktorat Jenderal Lingkungan Hidup Uni Eropa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement