Selasa 30 Dec 2025 22:30 WIB

Platform Ini Diharapkan Jawab Kebutuhan Pemantauan PLTS

Pengelolaan sistem PLTS setiap warga diniai butuh transparansi.

Petugas membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) on grid Sengkol kapasitas 7 megawatt peak (MWp) di Sengkol, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (16/10/2025). Hingga saat ini PLN UIW NTB mengelola 19 unit pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dengan total kapasitas 37,604 MW yang terdiri dari 56,2 persen PLTS dan 43,8 persen Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan rata-rata produksi sebesar 13,61 gigawatt hour (GWh) per bulan.
Foto: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
Petugas membersihkan panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) on grid Sengkol kapasitas 7 megawatt peak (MWp) di Sengkol, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (16/10/2025). Hingga saat ini PLN UIW NTB mengelola 19 unit pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dengan total kapasitas 37,604 MW yang terdiri dari 56,2 persen PLTS dan 43,8 persen Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dengan rata-rata produksi sebesar 13,61 gigawatt hour (GWh) per bulan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Platform digital terintegrasi berbasis web yang berfungsi sebagai portal pengelolaan proyek energi surya. Platform yang dinamakan SUN Hub,  dikembangkan untuk menjawab kebutuhan pelanggan yang semakin kompleks, bukan hanya dalam memantau kinerja sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

Platform tersebut bisa digunakan dalam mengelola data proyek, mengoptimalkan penggunaan energi, serta meningkatkan kapabilitas internal melalui pembelajaran berkelanjutan. CEO SUN Energy, Emmanuel Jefferson Kuesar, menjelaskan, Sun Hub ahadir seiring meningkatnya tuntutan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas keberlanjutan.

Baca Juga

"Banyak perusahaan masih menghadapi tantangan pengelolaan energi yang terfragmentasi. Berbagai studi global menunjukkan bahwa meskipun lebih dari 90 persen perusahaan telah menjalankan inisiatif transformasi digital, hingga 95 persen belum mencapai hasil optimal akibat kurangnya integrasi dan visibilitas data,"tambah dia.

Tantangan serupa juga kerap ditemui dalam pengelolaan sistem energi surya di fasilitas industri yang tersebar di berbagai lokasi. Peluncuran awal SUN Hub dilakukan untuk menjawab tantangan transformasi digital yang masih dihadapi banyak perusahaan tersebut, khususnya dalam pengelolaan PLTS di sektor industri yang menuntut keandalan operasional, akurasi, serta pengambilan keputusan berbasis data real-time.

Emmanuel Jefferson Kuesar, menyampaikan, SUN Hub dikembangkan dengan pendekatan yang berangkat dari kebutuhan nyata pelanggan. Dia menjelaskan, pengelolaan sistem PLTS di fasilitas industri bukanlah hal yang sederhana. Banyak data teknis, proses operasional, dan keputusan strategis yang harus dikelola setiap hari.

"Kami ingin membuat proses tersebut lebih ringkas dan terintegrasi, agar pelanggan dapat mengambil keputusan dengan cepat dan akurat, berbasis data real-time yang mudah diakses,”ujar dia.

Sebagai data management system, SUN Hub menyatukan data teknis, operasional, finansial, dan pelaporan keberlanjutan dalam satu portal terpusat, menjadikannya single source of truth bagi mitra bisnis dalam mengelola proyek energi.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement