Ahad 04 Jan 2026 06:30 WIB

Studi Ungkap Teknologi Lawas Panel Surya Justru Lebih Awet

Temuan di Swiss sejalan dengan hasil pengujian di Prancis pada 2024.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Satria K Yudha
Panel surya di dekat kota kecil Milagro, Provinsi Navarra, Spanyol utara, 24 Februari 2023.
Foto: AP Photo/Alvaro Barrientos
Panel surya di dekat kota kecil Milagro, Provinsi Navarra, Spanyol utara, 24 Februari 2023.

REPUBLIKA.CO.ID, SWISS — Panel surya generasi awal yang dipasang di Swiss sejak akhir 1980-an terbukti masih beroperasi stabil setelah lebih dari tiga dekade. Temuan ini menantang asumsi industri bahwa umur pakai panel surya terbatas pada masa garansi pabrikan.

Sebuah studi lintas negara menelusuri kinerja enam sistem fotovoltaik yang dipasang antara 1987 hingga 1993 di berbagai kondisi geografis Swiss, mulai dari lembah beriklim sedang hingga wilayah Alpen bersalju. Setelah lebih dari 30 tahun, seluruh sistem masih konsisten menghasilkan listrik.

Baca Juga

Rata-rata penurunan kinerja panel tercatat hanya sekitar 0,24 persen per tahun, jauh di bawah angka degradasi yang umum dilaporkan dalam literatur ilmiah, sehingga sebagian besar panel masih mempertahankan lebih dari 80 persen kapasitas awalnya.

Peneliti dari University of Applied Sciences and Arts of Southern SwitzerlandEbrar Özkalay mengatakan, data tersebut menunjukkan teknologi fotovoltaik mampu bertahan lebih lama dari perkiraan industri. “(Data) ini menunjukkan fotovoltaik dapat bertahan lebih lama (dari yang diperkirakan) dan ini pesan penting bagi industri (panel surya),” kata Özkalay, seperti dikutip dari ZME Science, Sabtu (3/1/2026).

Temuan di Swiss sejalan dengan hasil pengujian di Prancis pada 2024 oleh organisasi nirlaba energi terbarukan Hespul. Panel surya atap yang dipasang pada 1992 tercatat masih beroperasi hampir 80 persen dari kapasitas awal setelah 31 tahun penggunaan.

Hespul menilai hasil tersebut menegaskan potensi fotovoltaik sebagai tulang punggung pasokan listrik bersih jangka panjang, baik di Prancis maupun secara global.

Penelitian Swiss mengungkap lokasi pemasangan berpengaruh besar terhadap laju penuaan panel. Panel di dataran rendah mengalami degradasi lebih cepat akibat suhu permukaan yang bisa menembus 80 derajat Celsius pada musim panas, memicu tekanan material dan penurunan konduktivitas.

Sebaliknya, panel di kawasan Alpen justru menunjukkan ketahanan lebih baik meski terpapar radiasi ultraviolet tinggi dan fluktuasi suhu harian yang tajam.

Faktor kunci lain terletak pada komposisi material. Panel generasi awal menggunakan enkapsulan EVA yang kuat, lapisan belakang Tedlar, serta struktur kaca dan foil yang kokoh, membuatnya lebih tahan terhadap penuaan.

Namun, panel yang diproduksi sebelum penggunaan penstabil ultraviolet menunjukkan perubahan warna, delaminasi, hingga kegagalan sambungan solder yang menurunkan efisiensi.

Di tengah ekspansi energi surya global yang kini menyumbang lebih dari 8 persen listrik dunia dan mendominasi kapasitas energi terbarukan baru pada 2023, keandalan jangka panjang menjadi isu krusial. Peneliti mengingatkan strategi menekan biaya dengan mengorbankan kualitas material berisiko memperpendek umur pakai panel.

Pengalaman di Gujarat, India, menunjukkan banyak instalasi surya periode 2009–2013 mengalami degradasi parah dan harus diganti setelah 8 hingga 12 tahun akibat kualitas manufaktur rendah dan minim perawatan.

Temuan ini menegaskan keberlanjutan energi surya tidak hanya ditentukan oleh harga dan efisiensi awal, tetapi juga ketahanan material dalam jangka panjang. Panel yang lebih awet berarti biaya siklus hidup lebih rendah dan jejak karbon yang semakin kecil. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal EES Solar dan pertama kali dilaporkan pada Agustus 2025.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement