Ahad 01 Feb 2026 11:20 WIB

PSEL Benowo Jadi Tumpuan Tekan Sampah Harian Surabaya

Pemerintah juga menyiapkan pembangunan PSEL berbasis aglomerasi.

Pekerja beraktivitas di sekitar instalasi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (6/5/2021). PSEL yang baru diresmikan oleh Presiden Joko Widodo tersebut merupakan hasil kerja sama antara Pemkot Surabaya dengan PT Sumber Organik yang menghasilkan energi listrik 11 megawatt dengan rincian 2 megawatt melalui metode Landfill Gas Power Plant dan 9 megawatt dari Gassification Power Plant.
Foto: MOCH ASIM/ANTARA
Pekerja beraktivitas di sekitar instalasi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (6/5/2021). PSEL yang baru diresmikan oleh Presiden Joko Widodo tersebut merupakan hasil kerja sama antara Pemkot Surabaya dengan PT Sumber Organik yang menghasilkan energi listrik 11 megawatt dengan rincian 2 megawatt melalui metode Landfill Gas Power Plant dan 9 megawatt dari Gassification Power Plant.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Investor dan pemerintah daerah kini menaruh harapan besar pada fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) untuk menahan laju penumpukan sampah di TPA Benowo, Surabaya. Setiap hari, sekitar 1.500 ton sampah masuk ke lokasi tersebut dari seluruh wilayah Surabaya.

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menilai PSEL menjadi opsi pengelolaan yang relevan bagi kota dengan timbulan sampah di atas 1.000 ton per hari. “PSEL adalah salah satu alternatif pengelolaan sampah, karena sampah jika tidak dikelola akan jadi masalah, PSEL di TPA Benowo merupakan langkah bagaimana mengatasi timbulan sampah yang cukup besar. PSEL lah yang menjadi pilihan,” kata Kepala Bidang Wilayah III Pusdal LH Jawa KLH/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Gatut Panggah Prasetyo di Surabaya, Ahad (1/2/2026).

Baca Juga

TPA Benowo tercatat sebagai lokasi PSEL pertama di Indonesia yang diresmikan pada 2021. KLH menilai pengurangan sampah melalui fasilitas ini menjadi krusial untuk mencegah meluasnya gunungan sampah yang berisiko terhadap keselamatan dan kesehatan warga.

“Karena jika tidak, maka gunung sampah akan semakin meluas, tinggi dan juga membahayakan keselamatan, kesehatan. PSEL diperuntukkan bagi wilayah dengan timbulan sampah lebih dari 1.000 ton per hari,” ujar Gatut.

Pemerintah juga menyiapkan pembangunan PSEL berbasis aglomerasi, termasuk Surabaya Raya yang mencakup Surabaya, Gresik, Sidoarjo, dan Lamongan. Skema ini ditujukan untuk menekan timbulan sampah lintas wilayah sekaligus memperkuat infrastruktur pengelolaan sampah regional.

Dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (26/1), Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan empat wilayah telah menuntaskan proses lelang dan diperkirakan siap memulai pembangunan PSEL pada Maret. Empat wilayah tersebut adalah Denpasar, Yogyakarta, Bogor, dan Bekasi.

Secara nasional, KLH telah menetapkan 10 wilayah aglomerasi untuk pengembangan PSEL, yakni Denpasar Raya, Yogyakarta Raya, Bogor Raya, Bekasi Raya, Tangerang Raya, Medan Raya, Semarang Raya, Lampung Raya, Surabaya Raya, dan Serang Raya. Pemerintah menargetkan proyek-proyek ini menjadi penyangga utama pengurangan beban TPA di kota-kota besar.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement