Kamis 05 Feb 2026 12:09 WIB

Transisi Telur Bebas Sangkar Dinilai Penting Dukung Keberlanjutan Lingkungan

Industri peternakan unggas perlu peduli tata kelola lingkungan

Act for Farmed Animals (AFFA)
Foto: Act for Farmed Animals (AFFA)
Act for Farmed Animals (AFFA)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Praktik penggunaan telur bebas sangkar (cage-free eggs) kian dipandang penting dalam mendorong sistem pangan yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab secara lingkungan. Transisi ini tidak hanya menyentuh aspek kesejahteraan hewan, tetapi juga berkontribusi terhadap pengurangan dampak lingkungan dari industri peternakan unggas.

Sejalan dengan tren global tersebut, koalisi Act for Farmed Animals (AFFA) mengingatkan pentingnya komitmen sektor perhotelan dalam mengadopsi sistem rantai pasok telur yang lebih berkelanjutan. Salah satu upaya sosialisasi dilakukan melalui aksi damai di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Minggu (2/2), yang menyoroti komitmen Hotel Millennium terkait penggunaan telur bebas sangkar.

Pemimpin Kampanye Act for Farmed Animals, Elfha Shavira, mengatakan sistem peternakan bebas sangkar memungkinkan ayam bergerak lebih alami, sehingga berdampak pada kesehatan ternak, kualitas telur, serta efisiensi penggunaan sumber daya.

“Model peternakan ini dinilai lebih selaras dengan prinsip keberlanjutan karena mampu menekan risiko penyakit, mengurangi penggunaan antibiotik, serta mendukung praktik produksi pangan yang lebih ramah lingkungan,” ujar Elfha dalam keterangannya.

Berdasarkan laporan Cage-Free Tracker Asia 2025 yang dirilis Sinergia Animal, sebanyak 70,5 persen dari 95 perusahaan pangan di lima negara Asia, yakni India, Indonesia, Jepang, Malaysia, dan Thailand, telah mengungkapkan kemajuan implementasi komitmen transisi telur bebas sangkar. Angka ini meningkat dibandingkan capaian tahun sebelumnya sebesar 69,8 persen.

Laporan tersebut menempatkan transisi cage-free sebagai bagian dari upaya memperkuat transparansi rantai pasok, pengurangan jejak lingkungan, serta peningkatan standar keberlanjutan di sektor pangan dan perhotelan. Lima negara Asia tersebut memegang peran strategis dalam rantai pasok telur regional dan global.

AFFA menilai sektor perhotelan memiliki posisi strategis dalam mempercepat adopsi praktik pangan berkelanjutan karena volume konsumsi telur yang besar serta pengaruhnya terhadap pemasok.

Koalisi ini mendorong pelaku industri untuk terus meningkatkan keterbukaan pelaporan dan mempercepat transisi sebagai bagian dari komitmen ESG (environmental, social, and governance) yang semakin menjadi perhatian investor dan konsumen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement