REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- UN Women Indonesia dan Green Welfare Indonesia meluncurkan Toolkit “Aksi Iklim Orang Muda yang Responsif Gender di Indonesia: Panduan Praktis Implementasi Proyek Komunitas yang Inklusif”. Toolkit ini merupakan bagian dari upaya mendorong aksi iklim yang lebih adil dan inklusif melalui peran orang muda.
Toolkit ini disusun sebagai sumber pengetahuan praktis bagi kelompok orang muda dalam merancang dan menjalankan inisiatif iklim dengan mempertimbangkan kebutuhan khusus perempuan dan anak perempuan. Peluncuran toolkit ini dilakukan di tengah tingginya risiko iklim dan bencana yang dihadapi Indonesia.
Berdasarkan World Risk Index 2025, Indonesia berada di peringkat ketiga negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menunjukkan perempuan memiliki risiko 14 kali lebih tinggi menjadi korban bencana dibandingkan laki-laki. Hal ini menandakan dampak bencana dan krisis iklim tidak bersifat netral gender.
Toolkit Aksi Iklim Orang Muda yang Responsif Gender dikembangkan secara kolektif oleh orang muda dan diperkaya dengan praktik baik serta masukan dari organisasi yang bergerak di isu lingkungan hidup dan kesetaraan gender.
Proses penyusunannya melibatkan konsultasi dengan kelompok orang muda melalui panggilan partisipasi terbuka, sehingga panduan ini diharapkan relevan dengan konteks lokal di berbagai daerah.
Dalam pernyataannya, Senin (9/2/2026), UN Women menyatakan toolkit ini memuat panduan langkah demi langkah dalam siklus proyek iklim, mulai dari memahami konteks, perencanaan, implementasi, pemantauan, hingga upaya memperluas dampak.
Toolkit ini juga menyediakan alat bantu analisis gender dan iklim, pemetaan risiko, analisis pemangku kepentingan, serta refleksi pembelajaran. Sejumlah contoh dan praktik baik dari kelompok orang muda di Indonesia turut disertakan sebagai referensi.
Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dr. Amurwani Dwi Lestariningsih, mengatakan peluncuran toolkit ini bertepatan dengan momentum penguatan komitmen iklim nasional dan global Indonesia. Menurutnya, transisi menuju pembangunan rendah karbon harus dipastikan berjalan secara adil dan inklusif.
“Toolkit ini hadir pada momen yang sangat penting ketika Indonesia sedang memperkuat komitmen iklim nasional dan global, sekaligus memastikan bahwa transisi menuju pembangunan rendah karbon berjalan secara adil dan inklusif,” ujar Amurwani.
Ia menegaskan kementeriannya akan terus mendorong integrasi perspektif gender dalam seluruh kebijakan pembangunan nasional dan daerah. Acara peluncuran juga dirangkaikan dengan diskusi panel bertajuk “Youth-Led Gender-Responsive Climate Action and National Targets: Where Do They Meet?”.
Diskusi ini menghadirkan perwakilan orang muda penyusun toolkit, pemerintah, dan organisasi non-profit untuk membahas kontribusi aksi iklim yang dipimpin orang muda terhadap pencapaian target iklim nasional. Selain itu, digelar lokakarya yang melibatkan 31 orang muda dari berbagai daerah di Indonesia.
Lokakarya ini difokuskan pada penerapan langsung pembelajaran dalam toolkit, mulai dari analisis gender dasar, desain proyek iklim yang inklusif, hingga strategi perluasan dampak. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat memperkuat kualitas proyek iklim yang telah mereka jalankan sekaligus membangun jejaring lintas daerah.
Head of Programmes UN Women Indonesia, Dwi Yuliawati, menekankan pentingnya menghadirkan pengalaman dan perspektif orang muda dalam kebijakan iklim.
“Orang muda adalah kelompok yang paling merasakan konsekuensi kebijakan iklim hari ini. Jika pengalaman dan perspektif mereka tidak dihadirkan, maka kebijakan iklim berisiko hanya memberikan solusi jangka pendek yang mengabaikan keadilan,” ujarnya.
Sementara itu, Pendiri Green Welfare Indonesia, Nala Amirah, menegaskan pendekatan responsif gender seharusnya menjadi standar dasar dalam proyek komunitas. Ia menilai tantangan ke depan bukan hanya meningkatkan partisipasi orang muda dan perempuan, tetapi memastikan partisipasi tersebut menghasilkan dampak yang berkelanjutan.
Toolkit ini dikembangkan sebagai bagian dari program EmPower: Women for Climate-Resilient Societies (Phase II) yang diimplementasikan UN Women bersama United Nations Environment Programme (UNEP). Ke depan, toolkit ini diharapkan dapat digunakan secara luas oleh organisasi orang muda yang bergerak di bidang aksi iklim serta mendorong kemitraan multipihak untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.