Senin 02 Mar 2026 19:38 WIB

Riset UI Ingatkan Risiko Sisa Makanan Terbuang dari MBG

Peneliti dorong evaluasi agar makanan benar-benar dikonsumsi habis.

Rep: Bayu Adji Prihammanda/ Red: Gita Amanda
Siswa menyantap makan bergizi gratis di Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Medan, Sumatera Utara, Rabu (14/1/2026). Kementerian Keuangan melaporkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menyerap anggaran sebesar Rp51,5 triliun per 31 Desember 2025 atau setara 72,5 persen dari pagu Rp71 triliun pada APBN 2025.
Foto: ANTARA FOTO/Yudi Manar
Siswa menyantap makan bergizi gratis di Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Medan, Sumatera Utara, Rabu (14/1/2026). Kementerian Keuangan melaporkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menyerap anggaran sebesar Rp51,5 triliun per 31 Desember 2025 atau setara 72,5 persen dari pagu Rp71 triliun pada APBN 2025.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Departemen Antropologi FISIP Universitas Indonesia (UI) telah melakukan riset terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah sejak awal 2025. Hasil riset tersebut menunjukkan masih tingginya potensi sisa makanan terbuang (food waste) dari program tersebut.

Peneliti riset itu, Dr Dian Sulistiawati, mengatakan penelitian dilakukan dengan mendatangi langsung lima sekolah penerima manfaat MBG di wilayah Jakarta. Penelitian yang dikerjakan dalam rentang Juni–September 2025 tersebut dilakukan dengan mengamati langsung para siswa yang menyantap MBG.

Baca Juga

"Kalau ditanya, siswa itu senang atau tidak mendapat paket makan MBG, mereka pasti akan menyatakan sangat senang," kata dia saat seminar riset di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI, Senin (2/3/2026).

Meski demikian, kenyataan yang ditemukan tim peneliti tidak selalu sesuai dengan pernyataan para siswa tersebut. Pasalnya, sikap siswa saat menerima atau menyantap MBG tidak seluruhnya antusias.

Dian menyatakan, timnya menghabiskan satu hari untuk melakukan penelitian di satu sekolah. Setiap mendatangi satu sekolah, pihaknya mengamati langsung proses siswa menyantap MBG di dua hingga tiga kelas.

"Jadi mereka bilang senang ada paket MBG, tapi sikapnya ada yang tidak dimakan, bahkan ada yang ditiduri, kepalanya di omprengnya," kata Dian.

Tak hanya itu, berdasarkan temuan tim peneliti di lapangan, mayoritas makanan yang disediakan tidak dihabiskan oleh para siswa. Bahkan, dari hasil penelitian di lima sekolah wilayah Jakarta, hanya empat hingga lima siswa yang menghabiskan MBG yang disediakan dalam satu kelas.

"Bayangkan, di satu kelas itu ada 32–34 siswa, hanya 4–5 yang omprengnya benar-benar habis dan makanannya memang dimakan oleh siswa," ujar Dian.

Sementara itu, mayoritas siswa lainnya tidak menghabiskan makanan yang diberikan secara tuntas. Bahkan, beberapa hanya mengonsumsi makanan dalam jumlah sangat sedikit.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement