REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Integrasi dana sosial dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) mulai diterapkan dalam pengembangan program pemberdayaan masyarakat oleh lembaga filantropi. Pendekatan ini dinilai mampu mendorong dampak ekonomi yang lebih terukur sekaligus memperkuat perlindungan sosial.
Sejumlah program berbasis zakat, infak, dan sedekah (ZIS) kini juga mulai mengadopsi kerangka prinsip ESG dalam implementasinya. Pendekatan tersebut mendapat pengakuan dalam ajang Nusantara CSR Awards 2026 yang diselenggarakan La Tofi School of Social Responsibility di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Dalam ajang tersebut, YBM BRILiaN meraih penghargaan Platinum Alignment untuk tiga program utama yang mencakup pendidikan, penanganan stunting, dan pemberdayaan ekonomi keluarga. Penilaian dilakukan menggunakan metodologi La Tofi ESG Rating dan Corporate Economic Protection Index (CEPI).
Executive Director YBM BRILiaN Dwi Iqbal Noviawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan pengelolaan dana sosial yang semakin terarah dan terukur.
“Penghargaan Ini tentu tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Mudah-mudahan memacu semangat kami untuk melayani mustahik dan muzaki, pada saat yang sama menginspirasi gerakan zakat,” ujar Dwi, Jumat (10/4/2026).
Tiga program yang memperoleh penghargaan tersebut meliputi beasiswa pendidikan tinggi bagi mahasiswa kurang mampu, program pencegahan stunting, serta pemberdayaan ekonomi berbasis keluarga.
Program-program ini dinilai mampu memberikan dampak berkelanjutan, tidak hanya pada aspek sosial tetapi juga ekonomi masyarakat.
Selain itu, Dwi Iqbal Noviawan juga masuk dalam daftar 100 Manajer Program Terbaik Indonesia 2026 dengan predikat Platinum Leader Performance.
Penggunaan pendekatan ESG dalam pengelolaan dana sosial dinilai menjadi tren baru dalam sektor filantropi. Model ini memungkinkan pengukuran dampak yang lebih jelas serta memperkuat akuntabilitas program di tengah meningkatnya kebutuhan perlindungan ekonomi masyarakat.