Senin 04 May 2026 09:21 WIB

Kenapa Siang Panas, Sore Hujan? BMKG Minta Waspada

Hujan lebat dan angin kencang berpotensi muncul tiba-tiba saat pancaroba.

Rep: Lintar Satria Zulfikar,M. Fauzi Ridwan/ Red: Gita Amanda
Pola cuaca panas pada siang hari yang kemudian berubah menjadi hujan pada sore hingga malam kian sering dirasakan di berbagai wilayah Indonesia pada awal Mei 2026.Pola cuaca panas pada siang hari yang kemudian berubah menjadi hujan pada sore hingga malam kian sering dirasakan di berbagai wilayah Indonesia pada awal Mei 2026. (ilustrasi)
Foto: Republika/Thoudy Badai
Pola cuaca panas pada siang hari yang kemudian berubah menjadi hujan pada sore hingga malam kian sering dirasakan di berbagai wilayah Indonesia pada awal Mei 2026.Pola cuaca panas pada siang hari yang kemudian berubah menjadi hujan pada sore hingga malam kian sering dirasakan di berbagai wilayah Indonesia pada awal Mei 2026. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pola cuaca panas pada siang hari yang kemudian berubah menjadi hujan pada sore hingga malam kian sering dirasakan di berbagai wilayah Indonesia pada awal Mei 2026. Fenomena ini, menurut laporan mingguan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode 1–7 Mei 2026, merupakan ciri khas masa peralihan dari musim hujan menuju kemarau yang kini mulai berlangsung.

BMKG menjelaskan, penguatan Monsun Australia menjadi salah satu faktor utama. Angin timuran yang semakin dominan membawa massa udara kering dari Australia ke Indonesia, menandai awal pergeseran menuju musim kemarau. Namun, kondisi ini tidak serta-merta menghilangkan potensi hujan.

Baca Juga

Pada pagi hingga siang hari, radiasi matahari yang intens meningkatkan suhu permukaan secara signifikan. Pemanasan ini memicu proses konveksi kuat di atmosfer, yakni gerakan naik udara hangat yang kemudian membentuk awan hujan.

Hasilnya, hujan lokal kerap terjadi pada sore hingga malam hari dengan karakter tidak merata, berdurasi singkat, namun bisa berintensitas sedang hingga lebat, disertai kilat dan angin kencang. “Kombinasi radiasi matahari tinggi dan kelembapan udara yang masih cukup menjadi penyebab utama pola panas siang dan hujan sore,” tulis BMKG dalam laporannya seperti dikutip pada Senin (4/5/2026).

Selain faktor lokal tersebut, dinamika atmosfer skala global dan regional juga memperkuat pembentukan awan hujan. Saat ini, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) berada di fase aktif di wilayah Samudra Hindia dan diprakirakan melintasi sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sumatra, Jawa, Sulawesi, hingga Papua. Aktivitas ini meningkatkan suplai uap air dan mendukung pembentukan awan konvektif.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement